Tampilkan postingan dengan label Single parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Single parenting. Tampilkan semua postingan

Cinta Seorang Ayah Tunggal


“Whattt…..c’mon Vie…ada-ada aja deh lo….am not in the mood for joke at the moment,”kata temanku yang kebetulan berstatus sama dengan status ku..hm..well..except..his sex is male….means that he is a single daddy….the most wanted single daddy in town ., that’s exactly what I mean he..he…
“I am not joking…I just really really wanna know…,” reply me….”Pleaseeee…pleaseee…,” reply me any further.
“Ok…ok…what do you want to know….and please stop making that not funny face anymore…,”that’s what my friend said to me.
“Ha..ha…I know you always can’t stand to see my innocent face,” I reply him with big smile on my ‘innocent’ face he..he..

Apa yang pengen diriku ketahui dari temanku itu- let’s say his name is James, yang berstatus single dad dari dua orang anak perempuan yang sebaya dengan umur anak-anakku, adalah bagaimana cara seorang single dad memberitahukan kepada anak-anaknya bahwa ‘that he is seeing someone’.
Temanku itu, James, single dad yang ditinggal kawin oleh istrinya untuk selama hampir 8 tahun ini, dan baru saja beberapa bulan kemaren berhubungan serius dengan seorang wanita dan segera akan melanjutkan ke tahap pernikahan.
Tak lama kemudian, James pun siap-siap untuk bercerita sedangkan diriku duduk manis bagaikan anak yang sangat antusias untuk mendengarkan dongeng dari orangtuanya he..he..Dan… kisah James pun dimulai…..:)

Sejak saat pertama menyandang status duda, saat itu pula diriku sering berkata bahwa diriku tidak akan lagi pernah berhubungan serius, apalagi menikah, dengan seorang wanita. Dan mungkin sama situasinya dengan yang lo punya Vie, hari-hari gw hanya disibukkan dengan urusan anak-anak, kerjaan, rumah, dan teman-teman yang umumnya berjenis kelamin laki-laki. But that situation changed for me in a heartbeat when Ifinally find someone whom I can envision saying “I love you” , a statement that may be difficult to fathom in my moment of singledom. Sejak saat itu, diriku telah menyadari, sebagai seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya diriku tidak bisa lantas egois hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja. Ada anak-anak yang perasaan dan pikirannya pun harus gw perhatikan. Lagipula, gw kan juga ‘satu paket’ Vie…dan ingat ga ma becandaan yang lo dulu sering bilang ke gw kalo kita lagi makan Kentucky,”Gw pikir-pikir ….kita ini beda-beda tipis ma paket Combo Kentucky ya James”,ha…ha…(James…James…bisa-bisanya masih keingetan ma candaan gw yang seperti itu)

Gw berusaha untuk selalu jujur dan terbuka ma anak-anak.Selain jujur, sebisa mungkin gw akan berusaha menjelaskan kepada anak-anak sesederhana dan ‘seindah’ mungkin. Bukannya berlagak sok romantic, tapi gw hanya berpendapat ketika diriku menggambarkan sesuatu dalam bahasa yang jujur, sederhana dan indah, maka secara tak langsung diriku pun mengajarkan kepada anak-anak bahwa rasa cinta antar lelaki dan perempuan dewasa adalah sesuatu yang indah, agung, dan berharga. Sehingga kelak, diriku pun bisa mengharapkan anak-anak tidak akan menyia-nyiakan cinta.

Gw pun tak lupa untuk menanyakan pikiran dan perasaan anak-anak
Gw melihat, kebanyakan orangtua tunggal enggan untuk menanyakan perasaan anak-anak mereka, lebih karena mereka takut untuk mendapatkan penolakan dari anak-anak akan kehadiran seseorang yang baru dalam hidupnya. Percayalah kalau anak-anakpun tentunya ingin orangtuanya bahagia. Apabila sebagai orangtua telah terbiasa mendidik anak dengan perhatian dan pelukan penuh kasih sayang, pikiran anak-anak yang polos tentunya berpendapat bahwa orangtua pun membutuhkan hal yang sama, membutuhkan perhatian dan pelukan menentramkan penuh kasih dari seseorang yang lain di masa-masa sulit.



Tentunya gw pun tak lupa untuk terus meyakinkan anak-anak bahwa meskipun ada seseorang baru di hidup kami, anak-anak pun tetap menempati posisi yang sangat penting di hidup gw. Mereka adalah permata hati yang tidak bakal pernah tergantikan oleh siapapun dan kapanpun di hidupku.

Biarkan anak-anak menentukan sendiri waktu yang tepat untuk bertemu dan berkenalan
Walaupun mereka masih kecil, gw tetap berusaha untuk memperlakukan mereka dengan menghargai mereka sebagai suatu individu yang mempunyai hak dalam menentukan sesuatu. Sehingga, niat menggebu-gebu untuk memperkenalkan anak-anak dengan si dia sesegera mungkin, mudah-mudahan tidak pernah terlintas di benak. Selagi menunggu, diriku pun berusaha untuk lebih memantapkan hubungan gw dengan si dia. Gw tidak ingin apabila anak-anak telah mengenal dan ikut jatuh cinta dengan si dia, lalu akan terluka apabila ternyata hubungan gw dan si dia tidak berjalan lancar. Jadi, gw sendiri tidak akan memperkenalkan anak-anak dengannya apabila gw belum merasa yakin dengan hubungan yang sedang gw bina ini. Selain itu, sedikit demi sedikit gw akan berusaha secara tidak langsung mengenalkan si dia ke anak-anak. Misalnya ketika sedang makan malam, gw akan mengatakan kepada anak-anak,” “You know what Sari said to me today? She said something really funny. She said that I have a chubby cheek like balloon:)”. By doing so, I try to make it emotionally easier for my children when the time to meet her comes. They will meet her with a sense of established trust, and children understand the language of laughter.

Dan satu hal lagi yang paling penting, jangan sampai kebiasaan-kebiasaan yang sering gw lakukan dengan anak-anak lantas jadi jarang lagi atau bahkan malah tidak pernah lagi dilakukan hanya karena gw merasa ingin selalu berjumpa dan menghabiskan waktu dengannya. Yang paling tidak ingin gw lakukan sebagai seorang ayah adalah mengecewakan mereka.

Mendengar temanku bercerita dan sekaligus melihat mimiknya yang terlihat sangat bersemangat penuh kasih saying ketika bercerita tentang anak-anaknya, sungguh membuatku terharu dan juga bangga pada temanku ini. Benar juga kata pepatah,” Any fool can be a Father, but it takes a real man to be a Daddy!!...And you are a really fine Daddy, my friend:)”

Susah Ga Seh Jadi Ibu Tiri Yang Baik??



Mungkin bisa dibilang hampir semua wanita di muka bumi ini ga kebayang bakal jatuh cinta setengah mati ma kaum duda dan dengan membawa anak pula. Yah namanya jodoh...kita kan emang ga pernah tau siapa sih jodoh kita nanti. Tapi hm.....menikah dengan duda yang membawa anak-anak sebagai pelengkap dirinya...yang pasti udah kebayang dibenak kita tuh bahwa hidup kita bakal lebih meriah dari bayangan kita selama ini. Udah pasti lah, kita ngebayangin awal pernikahan hanya di-isi oleh kita dan pasangan saja, sehingga masih tersedia cukup banyak waktu luang yang bisa kita nikmati hanya berdua dan juga ruang kosong yang tidak perlu kita segera isi penuh sampai saat kita merasa telah tiba waktu yang tepat untuk itu.

Tapi jatuh cinta dan kemudian menikah dengan pria yang berstatus duda dengan anak tentunya seketika membuyarkan segala bayangan yang selama ini tersimpan dalam benak kita. Jangankan bisa berleha-leha menikmati waktu luang dan ruang kosong itu, meskipun seejenak, jangan-jangan masa pacaran kita saja sudah direcoki oleh banyak pihak...tidak hanya keluarga dan teman-temannya saja, tetapi ditambah juga oleh anak-anaknya dan (mungkin) mantan istrinya. Namanya punya anak dari perkawinan terdahulu, membuat adanya suatu hubungan yang tidak bisa terputuskan sama sekali dengan sang mantan istri. So, mau ga mau, ikhlas ataupun tidak, suka atau tidak suka, kalau kita benar-benar cinta dan berniat membangun keluarga dengan si dia, maka harus menerima dirinya beserta paket lengkapnya:)

Nah, sebelum bersiap-siap menjadi ibu tiri secara instant, lebih baik dan ga ada salahnya membaca artikel ini yang merupakan hasil survey kecil-kecilan terhadap sekumpulan kecil teman-teman yang berstatus 'ibu tiri' dengan tujuan untuk memberikan sekilas gambaran realitas mengenai kehidupan seorang ibu tiri.

- Paham untuk tidak memaksakan anak-anak tiri untuk secara instant menyukai kita
Untuk menerima seseorang yang baru dalam kehidupan kita tentunya membutuhkan tidak sedikit perasaan suka terhadap seseorang yang baru tersebut. Dan untuk menumbuhkan perasaan suka ini secara wajar, tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan harus didukung oleh interaksi personal dengan intensitas yang cukup sering dan berkualitas.

Karena, menurutku, anak-anak tidak akan bisa langsung pertama kali langsung menganggap diri kita sebagai 'ibu ke-dua'. Bagi anak-anak, seseorang harus cukup layak untuk menyandang status ibu. Tidak bisa begitu saja kita mengharapkan anak-anak dengan ikhlas bersedia untuk memanggil kita ibu hanya karena kita menikah dengan ayah mereka. "Siapa Loe? Emangnya loe pernah melahirkan gw?" demikianlah ringkasnya pendapat anak-anak. Bagi anak-anak yang mempunyai hubungan yang baik ataupun tidak baik dengan ibu kandung mereka, keadaannya akan sama saja. Mereka akan merasa sang wanita baru ini hendak mencuri kasih sayang sang ayah. Tidak akan pernah mudah dan butuh proses tentunya. Terutama karena image ibu tiri yang kadung jelek di pikiran masyarakat umum, ekspektasi dan pengertian dari kata sifat "Baik" yang berbeda antar individu, dan sampai belum adanya metode baku yang tepat mengenai "Bagaimana Menjadi Seorang Ibu Tiri yang Baik dan Benar".

Nah, sebaiknya biarkan saja hubungan ini beserta keintimannya berjalan dan terbangun secara alami dan wajar. Perbesar rasa kesabaran dan rasa empati kita terhadap anak-anak pasangan.


- Paham bahwa peran kita sebagai ibu tiri bukanlah pelengkap kekurangan ataupun melebihi peran sang ibu kandung
Ingatlah, bahwa figur ibu kandung tetaplah ibu kandung di mata anak-anaknya, seburuk apapun dia. Dan begitu juga dengan kita. Peran dan status kita sebagai ibu tiri, akan tetap sebagai ibu tiri di mata anak-anak, sebaik apapun kesan kita di mata mereka.

Diriku percaya sebagai ibu tiri, kita tidak akan bisa berbuat atau memberikan yang lebih baik dari yang dapat diperbuat ataupun diberikan oleh orangtua kandung. Kita tidak dapat menembus ikatan darah yang terjalin antara anak tiri kita dan orangtua kandungnya.
Sebagai orangtua tiri, kita tidak lantas menjadikan diri kita lebih baik daripada orangtua kandungnya hanya karena kita menerima tugas sebagai orangtua untuk seorang anak yang secara biologis bukan anak kita. Kita mempunyai banyak keterbatasan seperti kita tidak mempunyai hak untuk memarahi anak tiri seperti orangtua kandung melakukannya.

Paling banter hal yang seharusnya dapat kita lakukan adalah memberikan kelembutan dan pengertian dimana banyak orangtua kandung lupa akan hal ini karena orangtua kandung tidak merasa perlu untuk disukai, mereka tahu terlepas dari apapun kesalahpahaman ataupun ketidakcocokan antara mereka dan anak2nya, akan selalu ada ikatan darah yang menghasilkan cinta yang tanpa syarat dan tidak mengenal batas yang selalu terjalin antara mereka.



- Paham bahwa status ibu tiri bukan lantas membuat diri kita kehilangan identitas diri
Tunjukkan diri kita apa adanya. Jangan memanipulasi diri kita menjadi seseorang dengan figur ibu yang ideal, karena segala bentuk kepura-puraan tidak akan berlangsung lama seiring kelelahan yang akan semakin besar menimpa kita. Lagipula anak-anak adalah 'sensor alami' yang terbaik dari segala alat sensor yang ada. Anak-anak dengan nalurinya yang masih polos dan tajam akan bisa menilai apakah kita benar-benar tulus sayang pada diri mereka atau tidak.

Sebaiknya para ibu tiri harus benar-benar mengerti akan hal ini. Sangat besar kemungkinan ibu untuk melakukan apa saja demi merasa ingin disukai oleh anak2 tiri mereka. Bahkan kadang harus bersandiwara menjadi seseorang yang bukan diri mereka sendiri untuk mendapatkan cinta dari anak2 tiri mereka. Tetapi hal ini tidak akan berjalan untuk selamanya. Tidak ada seseorangpun yang dapat bertahan dengan nyaman hidup dalam kepalsuan. Tidak akan ada seseorangpun yang dapat memakai topeng selama yang dia inginkan. Apalagi kalo tujuannya tidak tercapai, dan hasilnya pun akan lebih jauh dari sekedar baik.


- Paham keharusan untuk meminimalisasikan seminimal mungkin rasa cemburu yang timbul pada diri kita
Sebagai seseorang yang baru menikah tentunya kita pengen mempunyai waktu pribadi hanya berdua-duaan saja dengan sang pasangan. Namun, kok kayaknya hal ini terkesan tidak mungkin ya apalagi melihat keakraban yang sangat erat antara pasangan dengan anak-anaknya. Cemburu sih...tapi mau gimana lagi....mau ga mau kan kita ga bisa memiliki dia sepenuhnya alias harus membagi perhatian pasangan dengan sang anak, dan tidak bisa mengeluh apabila porsi perhatian sang pasangan ternyata lebih besar untuk anak-anaknya daripada untuk kita.

Kalau kita mulai merasakan hal ini merasuki pikiran dan hati kita, sadarkanlah dengan mengingat kembali komitmen awal beserta segala pertimbangannya mengapa kita malah memilih sang duda untuk menjadi pasangan hidup ketimbang sejuta pria single diluar sana. Tentunya plus-nya lebih banyak daripada minus-nya kan? Nah, ingatlah sejuta point-point plus ini untuk mengenyahkan rasa cemburu itu.Anak-anak bukan saingan kita, tetapi sudah merupakan bagian dari hidup kita sekarang yang harus dengan tulus kita sayangi dan terima, sama besarnya rasa sayang dan penerimaan terhadap ayah mereka.

Orangtua tiri, menurutku, harus sadar memiliki tugas yang tanpa pamrih. Orangtua tiri tidak akan bisa menjadi pemenang utama dalam merebut hati anak2 tiri maupun pasangan kita. Namun, perlu juga disadari ada satu hal yang sebaiknya selalu diingat, sesungguhnya situasi untuk anak tiri bahkan lebih parah dari kita.

Orang dewasa, kita, masih selalu bisa mendapatkan suami atau istri yang baru. Namun, anak hasil dari perceraian tidak akan mendapatkan ayah atau ibu yang baru, sama seperti mereka tidak akan mendapatkan sebuah hati yang baru ataupun paru-paru yang baru. Baik dalam suka maupun duka, senang maupun susah, anak2 akan selalu dalam bayang2 orangtua kandungnya dan begitupun juga orangtua kandung terhadap anak-anak mereka.

So, setelah baca uraian diatas, kembali tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, jauh kedalam hati nurani, sudahkah kita siap untuk menyandang gelar ibu tiri?:)

10 Things I Learn and Find Out As A Mother


1. Cinta terhadap anak2ku membuat diri ini percaya bahwa ternyata yang namanya 100% cinta itu seharusnya emang bersifat unconditional dan tidak dibatasi oleh sesuatu, seseorang, atau apapun itu.

2. Money isn't everything. It's barely anything compared to watching my child grow. If I have enough of it, the rest doesn't matter.

3. Apapun akan aku kerjakan, asal halal, untuk anak2ku...meskipun aku harus menjadi seorang pembantu. Tidak pernah ada lagi kata menyerah, malu ataupun gengsi dalam kamus hidupku.

4. I’m not much for defending myself, but don’t mess with my kids!

5. I’ve learned more to take care and appreciate my health.

6. Belajar untuk lebih sabar, memahami, mempercayai, dan mendengarkan. Juga I’ve learned to trust my instincts.

7. Percaya kalau ternyata keajaiban itu emang nyata when there’s nothing like the feeling I got when looking into my baby’s eyes and they’re looking back at me:)....sehingga sebagai hamba Tuhan, diriku ini semakin sering mengingatkan untuk tidak lupa bersyukur atas karunia-Nya:)

8. Merasakan rasa bangga yang BENAR2 membuncah penuh di dada tapi juga mengetahui kalau rasa khawatir itu dapat membunuh atau membuat seorang ibu menjadi gila. So...just try to think positive and optimist!

9. Waktu tidur yang tidak sebanyak dulu, membuat diriku kini lebih menghargai dan menikmati tidurku dan jarang bermimpi buruk loh.

10.Ternyata...Nothing else I do in this lifetime will ever be as important as being a mother!

Communicate With Your Kids While Away


Beberapa waktu yang lalu diriku menghabiskan sisa hari setelah jam kerja berakhir dengan menikmati secangkir kopi bersama seorang teman, yang berstatus sama dengan diriku tapi dibedakan oleh jenis kelamin. Yup, temanku itu adalah seorang duda yang telah bercerai kurang lebih tiga tahun lamanya dengan seorang anak balita yang kini tinggal bersama mantan istrinya di lain provinsi, di luar Jakarta, nun jauh di sana di seberang Pulau Jawa.

Jarangnya diriku dapat menyempatkan waktu untuk berchit-chat dengan teman-teman, apalagi seorang teman dengan jenis kelamin yang berbeda namun berstatus sama denganku, tentunya kesempatan ini termasuk bisa dibilang langka bagi diriku ini. Namun, rasa penasaran yang menggelitik membuat diriku semaksimal mungkin meluangkan dan menyisihkan waktu-ku yang sangat berharga dan teramat sayang untuk dihabiskan tanpa adanya kehadiran anak-anakku di sisiku.

Diriku sangat demikian penasaran ingin mengetahui trik-trik apakah yang dipakai oleh temanku ini yang seorang duda, seorang ayah bercerai namun sukses mempunyai kedekatan istimewa dengan anaknya walaupun mereka berada di dua pulau yang berbeda, dipisahkan oleh Selat Sunda.

Temanku ini bilang tidak ada resep atau perbuatan istimewa yang dia lakukan, selain yang utama selalu menyempatkan sebisa mungkin untuk menjaga hubungan baik dengan sang mantan istri agar selalu dapat dijinkan dan diterima baik apabila temanku ini berkunjung ke kediaman sang mantan istrinya untuk dapat meluangkan waktu bersama anaknya. Namun, temanku ini secara jujur juga mengatakan kepadaku, bahwa beban kerja dan waktu luang yang sangat minim menjadi kendala utama bagi dirinya untuk sesering mungkin berkunjung kesana. Tentunya juga masalah biaya transportasi pun menjadi kendala lainnya yang perlu diperhatikan. Apalagi jarak yang berseberangan pulau ini pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit, yang kadang kala temanku ini berpikir lebih baik dan lebih berguna apabila biaya-biaya ini dihemat saja dan dikirimkan ke sang mantan istrinya disana untuk biaya keperluan dan kebutuhan si kecil.



Frekuensi kunjungan yang harus dihemat sedemikian rupa tentunya akan membuahkan konsekuensi menurunnya tingkat interaksi yang dapat memperlemah ikatan emosional antara ayah dan anak. Namun tidak habis akal, temanku itu menyiasati kendala ini dengan melakukan hal-hal seperti berikut:

- Selalu memaksimalkan waktu untuk berkomunikasi melalui telepon
Hm..iya sih. With cell phone, we'll have unlimited night, weekend minutes and free long distance, talking with our kids who live miles away from us. On the phone, we can hear voice inflections and emotions that we lose in other forms of communication. Having a regular day of the week and time of the day to call can help build some anticipation for the call.

- Take and Share Digital Shots and Video
Si kecil yang belum bisa memotret dirinya sendiri tentunya menjadi salah satu kendala untuk saling bertukar photo atau rekaman dirinya. Hal ini lah yang menjadi salah satu alasan mengapa perlu sekali tetap menjaga hubungan baik dengan mantan, apalagi kalo anak-anak kita berada di bawah pengasuhannya. Dengan bantuan sang mantan untuk tidak lupa merekan dan mengirimkan gambar/rekaman si kecil terutama di saat-saat istimewanya, seperti hari ulang tahunnya atau hari pembagian rapornya tentunya akan membuat diri kita seperti hadir disana, ikut menjadi saksi di setiap masa-masa pertumbuhan, masa-masa istimewa si kecil yang tidak akan pernah terulang kembali. Combining a picture with a voice can really help the kids feel close and connected with us.

- Ponder Funny Postcards
One of the thing about postcards is that they are quick, easy and fun. They have the personal touch of a handwritten note.

- Video Camera/Video Chat
Ada saat-saat tertentu temanku ini meminta tolong sang mantan istri untuk mendampingi dan menolong si kecil ketika temanku ini melakukan video chat dengan audio phone. Dengan ini, tentunya sang teman seperti berhadapan langsung dengan sang anak, berkomunikasi dengan dapat mendengar celotehan riang anaknya, melihat senyum manis dan tingkah lucu sang anak walaupun hanya sebatas video camera, tapi itu saja sudah merupakan suatu anugerah kesempatan yang sangat berharga.

- Surprise Gifts
My friend tries to find a little gifts (stuffed animal, poster, cute socks) or orders a phone book from the community where his kid live or other goodies to be delivered to his kid, and send it along with a note every month or so to his daughter who lives far away. It doesn't have to be expensive, and it is always a nice surprise for her.
Well, I loved this idea because it is easy and creative, and lets the kids know that we are thinking about them regularly.

But myself specially believe Whatever our strategy, staying in touch when we are far away is important for single parents, no matter single mom or single dad. The relationships we build under less than ideal circumstances would make us to do more effort to communicate our love and concern all year long.

3 Tipe Ayah TunggaL Yang Kurang Baik



Minggu sore kemaren, gw membaca sebuah hasil penelitian dari Constance Ahrons yang mempelajari tentang tipe-tipe 'single dad atau divorced father' dengan melakukan survey terhadap 173 orang anak dari 98 jumlah pasangan yang bercerai.

Hasil penelitian Ahrons mengatakan bahwa secara garis besar, tipe-tipe divorced father dibagi ke dalam 3 tipe, yaitu:

- Disneyland Dads
Tipe ayah yang lebih memanjakan anak-anaknya dengan mainan-mainan, liburan, rekreasi, dan kegiatan bersenang-senang lainnya ketimbang be there for his children as a real 'father'.

- Deadbeat Dad
Tipe ayah yang sama sekali tidak memberikan bantuan dan dukungan kepada anak-anaknya secara material atau financially.

- Disapearing Dad
Tipe ayah yang sama sekali menghilang dalam kehidupan anak-anaknya, entah karena ayah tersebut pindah ke lain tempat atau karena sebab lainnya. Biasanya tipe ayah ini selain tidak memberikan dukungan secara material, juga tidak secara immaterial atau fisik.

Selain membagi figur seorang ayah kedalam tiga tipe seperti disebutkan diatas, penelitian Ahron juga menjelaskan faktor-faktor yang berkaitan dengan 3 tipe ayah tersebut yaitu kemarahan dan konflik yang terus berkepanjangan dengan mantan istri, adanya kehadiran laki-laki lain dalam kehidupan si mantan istri yang berarti juga adanya kehadiran ayah baru dalam hidup sang anak, kepindahan mantan istri dengan anak yang tanpa pemberitahuan, atau sang ayah yang menikah kembali.

Namun, terlepas dari ketiga tipe ayah diatas, hubungan anak dan ayah ini memang sangat rapuh dibandingkan hubungan antara anak dan ibu, terutama dalam tradisi yang sangat konservatif seperti di negara kita Indonesia. Ada pendapat umum bahwa seorang ibu harus terlibat dan menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka, tetapi hal yang sama tidak diharapkan dari ayah. Ayah sering diserahkan tugas sebagai pencari nafkah diluar rumah saja.

Sehingga tidak heran, apabila terjadi perceraian maka hak asuh anak biasanya akan jatuh ke tangan ibu karena sehari-hari memang ibulah yang lebih memiliki kedekatan secara fisik dengan anak-anak ketimbang seorang ayah. Hal ini secara tidak langsung juga mempengaruhi hubungan antara ayah dan anak setelah terjadinya perceraian.

Membesarkan Anak-Anak Ala-nya Vie:)



Sebagai seorang ibu tunggal dari dua orang anak, tidak menyangkal kalo sedikit mengalami kesulitan dalam mendidik anak dibandingkan 'pasangan orangtua normal' lainnya. Well, mungkin tidak tepat juga kalo judulnya dibilang kesulitan. Mungkin lebih pas kalo dibilang sedikit lebih unik, berangkat dari persepsi dimana pertumbuhan dan perkembangan setiap anak adalah unik dan berbeda satu sama lainnya. Nah, membesarkan anak-anak sebagai seorang ibu tunggal sedikit lebih unik karena tidak adanya seorang ayah yang mendampingi menumbuh-kembangkan anak-anak yang berbahagia lahir dan batin, adalah tujuan setiap orangtua di belahan manapun dari bumi ini, termasuk seorang ibu tunggal seperti diriku ini:)
Raising healthy, happy and confident children is crucial to their adult years.

Banyak teman mengatakan salut kepadaku bisa dan telah mendidik anak-anakku dengan kapasitasku sebagai seorang ibu tunggal, yang lantas menanyakan apa sih rahasianya? Well, terus terang I didn't have different rules or guidelines in raising my children. I raised them both by doing my best to know them as individuals. Kebetulan diriku dikaruniai sepasang anak, laki-laki dan perempuan. Akan tetapi, di dalam mendidik mereka, aku tidak memfokuskan pada perbedaan jenis kelamin yang ada pada mereka. When all is said and done the same rules apply, the same challenges are faced by both our sons and daughters. We no longer live in the days when more were expected of men than of women. Namun, untuk hal-hal tertentu aku juga berusaha untuk mengingatkan mereka akan kodrat mereka, sebagai seorang laki-laki dan perempuan. Terlihat tidak konsisten ya? Hm..ga juga sih. Karena ke-dua hal ini adalah hal yang berbeda dan diterapkan untuk situasi dan kondisi yang berbeda pula. Seperti yang dinasehatkan kebanyakan orangtua kita, diluar rumah sewaktu bekerja ataupun belajar para wanita mungkin bisa menganggap dirinya sejajar atau bahkan 'lebih diatas' kaum pria, akan tetapi sewaktu pulang ke-rumah, diriku mengharapkan anakku yang wanita bisa kembali kepada kodratnya sendiri sebagai seorang perempuan yang menyadari bahwa bagaimanapun seorang pria adalah pemimpin. Setidaknya, dalam menunaikan ibadah sholat, dimana Dali selalu memimpin sebagai imam dan diriku beserta Zahra sebagai makmumnya.

All this time, I raised my children with very minimum input from their father. I imagine if I am fortunate enough to have my ex involvement in raising our kids, even though we are not together any longer, but we can do some works together. Show a unified front to the children (even if we don’t like one another). We can show our children that we are both focused on their well being. The problems and issues that led to the father being absent are not the child’s fault. The actions of either parent should never cast a shadow on the child’s self worth. When mom does not respect and/or love the father any longer and the child believes they are just like the father (in a negative sense) the child cannot feel truly loved and valued, nor can they love themselves.



Ketidakhadirannya figur seorang ayah dalam kehidupan anak-anakku tidak lantas membuat diriku ini heboh mencari figur pengganti. Aku malah cenderung sangat berhati-hati dan membatasi sekali jumlah orang, terutama yang berjenis kelamin pria, yang dapat masuk kedalam kehidupan anak-anakku. Karena aku berpendapat, setiap orang yang aku bawa masuk ke dalam kehidupan anak-anak akan membawa dampak ataupun pengaruh, terlepas sedikit atau banyaknya. I need to know and have to make sure, the morals and values these other people have and the impact those values will have on my kids. This includes family as well as friends. My kids are by far better off without a male role model than they are with the wrong male role model.

Untuk membentuk dan meningkatkan rasa percaya diri pada anak-anak, diriku harus terlebih dahulu menunjukkan rasa percaya kepada anak-anakku. Children need to have faith in their judgment and need to know we have faith in them as well. Aku membiasakan anak-anak untuk belajar mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri. Aku hanya memberikan saran dan pendapat yang mungkin berbeda dengan pendapat anak-anak karena kami melihat dari sudut pandang yang berbeda, dimana ku melihat dan menilai dari kacamata orangtua yang tentunya akan selalu ada dominasi dari unsur atau keinginan untuk melindungi yang pada akhirnya akan berujung ke bentuk 'pelarangan' walaupun itu disampaikan secara halus ataupun terang-terangan tapi judulnya tetap saja 'melarang' atau dengan kata lain 'sebaiknya kamu ikut saran mami saja deh...mami kan pernah kecil kayak kamu, pasti mami tau yang terbaik untuk kamu...'....wah terus terang aku sangat menghindari untuk berkata seperti itu, karena apa yang aku anggap baik bagi diriku, belum tentu dianggap baik oleh anak-anak. Dan melaksanakan sesuatu yang mereka tidak merasa nyaman, tentu hasilnya akan tidak optimal.



It is my duty as a parent to teach my kids that learning from making mistakes is what leads to making the right choices in the long run. Most of all I need to teach my children to realize and own their responsibility. My duty as a parent is to guide and teach, not to live their life for them. Most importantly is listening and “hearing”. I may hear things I don’t want to hear, I may be asked questions I am not comfortable answering, but I need to rise to the occasion and be the ONE my kids know they can turn to. They can tell me all bad and good things and definetely always can count on myself to ACT not to REACT.

But I also always to remind myself and kids that being a single parent does not excuse my willingness to let things slide, nor does it excuse their behavior. We live in a society where people make excuses rather than owning their responsibility. I never allow my kids to use the excuse they don’t have a father to turn to. I always tell and show my children that their self worth is not tied to how many parents they have. My kids don't need to worry about who others are, what others have or how others live. My kids and I only need to be proud of who and what we are with all what we have by our own efforts.


"Cobalah untuk selalu jujur pada diri sendiri, pada hidup kita. Sebagai orangtua, khususnya seorang ibu tunggal seperti diriku ini, anak-anak melihat diriku sebagai seorang wanita sakti mandraguna, seorang bidadari, dan seorang malaikat bahkan seorang Tuhan yang hampir selalu luput dari kesalahan. Malah mungkin ada ekspektasi dari anak-anak bahwa kita, idola mereka, tidak akan pernah berbuat suatu kesalahan. Mereka selalu menuntut kita untuk tampil sempurna. Tapi jauh lebih baik bagi mereka untuk mengetahui bahwa kita pun hanyalah seorang manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan dan tidak pernah takut untuk berbuat salah karena kesalahan itu bukanlah suatu dosa. Kesalahan adalah suatu anugrah apabila kita dapat belajar dan mengambil hikmah daripadanya. So, don't be afraid to show our kids the real ourselves."

Gw bukan Super Mom...jadi gw not so so Super lah he..he...


Suatu ketika seorang teman kantor terkejut mengetahui gw berstatus sebagai seorang ibu tunggal dengan dua anak yang masih kecil (8 dan 6.5 tahun). Teman kantor gw itu berkata,”Wah hebat ya lo Vie…udah kerja seharian, terus masih harus ngurus dua orang anak…dan sendirian pula….wih wihhhh…lo emang wanita super deh.”

Menirukan sebait untaian lagu Wonder Woman-nya Mulan …”Gw bukan Wonder Woman”…ya memang gw bukan seorang super woman karena gw tidak mempunyai super power dan salah satu kebiasaan ‘mengeluh’ pun belom hilang 100% dari hidupku.

Tapi, julukan “Super Woman” ini bukan hanya baru sekali ini saja gw dapatkan. Beberapa orang, selain teman kantor gw itu, juga memberikan julukan serupa…yaaa Super Mom-lah, Wonder Mom-lah, Spider Mom-lah he..he….

Menanggapi pujian tersebut biasanya pipi gw hanya ‘me-merah’ karena, jujur, julukan itu terasa bagaikan sanjungan setinggi langit bagiku…terbang membawa diri ini ke awang-awang…menembus langit ke tujuh..haiyahh….:)

As single mom, diri gw ini sama sekali tidak memerlukan Super Power untuk menjalankan jalan hidup yang telah gw putuskan untuk dipilih. Gw hanya……”Just Do It” (mengutip slogan komesial produk NIKE). Gw yakin bahwa setiap orangtua menemukan cara untuk "just do it" dalam menggunakan sistem unik mereka sendiri. Tidak ada keajaiban atau kekuatan super di balik bagaimana orangtua tunggal melakukannya. Yang dibutuhkan adalah kerjasama, sikap toleransi dan kesabaran, juga sedikit kreativitas… wellll …hmm .... rasa humor juga deh:)
Karena sangat penting membuat anak-anak mau bekerja sama dengan kita, orangtua, sebagai suatu tim.

Tapi tak dapat disangkal kadang-kadang, terus terang saja, orangtua tunggal dapat bête juga loh….Jadi see…I am not super woman indeed:)

Apakah kita seorang ibu tunggal karena perceraian, kematian atau ditinggal tugas sang suami – perasaan bete yang sama kadang terasa. Ada saat-saat ketika kita merasa seperti semua orang mengambil, mendominasi waktu, tenaga dan pikiran kita….sampai-sampai kita merasa tidak sempat untuk mengurus dan memperhatikan diri sendiri. Dunia ini, juga Tuhan, terasa tidak adil.
Rasanya seperti dunia, termasuk anak-anak bersekongkol melawan kita. Ketika malam menjelang, di tempat tidur sebelum kepala menyentuh bantal, yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa meminta tambahan kesabaran dan kekuatan untuk melewati satu hari lagi

Namun, bukan hanya kesedihan saja yang dimiliki oleh ibu tunggal...ada momen-momen mengharukan juga bahagia dimana hanya kita, satu-satunya orang yang pantas dan berhak untuk merasakan rasa bahagia dan mengharukan itu.

Seperti ketika gw mengajarkan anak perempuanku belajar berjalan….wah itu membuat frustrasi bagi kami berdua. Ttetapi ketika akhirnya bayi perempuanku bisa berjalan, tidak pernah gw merasa lebih bangga pada dirinya atau dengan diriku sendiri, saat itu…

Atau ketika gadis cilikku itu mendapat peringkat juara umum di sekolahnya….wah bangga tak terperikan memenuhi relung dana….suatu rasa bangga yang umum dirasakan oleh setiap ibu di muka bumi ini….Namun yang istimewa adalah parental credit is all mine

Memori mengharukan ketika jagoan cilikku jatuh sakit. Batuk berdahak dan hidung peseknya yang mampet membuatnya sulit untuk bernafas, sehingga jagoan cilikku ini harus terbangun dari tidurnya hamper setiap jam. Sekedar untuk sedikit meringankan deritanya, gw pun selalu berada disamping tempat tidurnya. Kadang-kadang, rasa kesal dan cemburu terbersit di dada ketika membayangkan betapa enaknya ya mantanku yang pasti lagi tertidur lelap nun jauh di kotanya sana. Dan ketika akhirnya si jagoan cilik bisa tertidur….gw pun turut terlelap di atas karpet kamar tidurnya.

Dan ketika gw membuka mata di pagi hari, gw melihat ada sebuah piring berisi sepotong roti dengan selai stroberi ditemani harumnya secangkir ‘tea bag’ panas, yang ternyata sang putri cilikku ini yang rela repot untuk menyenangkan hati maminya. Sikap manis ini menyentuh gw begitu dalam, memberiku semangat dan kekuatan baru untuk menghadapi hari.

Ada saat ketika anak-anak dapat merasakan bahwa ibu nya pun perlu bantuan, butuh seseorang untuk menjaganya dan kali ini gantian anak-anakku yang menjaga ibu mereka. Perasaan haru dan bangga pun kembali menghampiri…alvi pun kembali cengeng lagi deh …hiks (tapi sambil tersenyum juga loh )

Anehnya, gw tidak lagi merasa kesal dan cemburu terhadap mantan yang mungkin maseh tertidur berkilo-kilo meter nun jauh disana. Alih-alih merasa benci atau cemburu gw malah merasa sangat kasihan padanya. Sebagai orangtua, dia pun pasti rindu akan saat-saat seperti ini dan tidak lagi bisa menikmatinya.

Karena gw tidak mempunyai kekuatan super, menjadi orangtua tunggal adalah hal yang paling sulit dan paling membuat frustrasi yang pernah dihadapi, tapi juga yang paling berharga terutama ketika melihat anak-anakku tertawa dan mengatakan “Love you, Mom” sambil mencium kedua belah pipiku.

Jadi untuk sekarang, tidak perlu kekuatan super untuk melewati hari demi hari…hanya Just Do it like Nike said

Bagaimana Menyembuhkan Luka Batin Anak Akibat Perceraian?


Di suatu kesempatan...ada seorang teman menanyakan"apakah setiap anak yang orang tuanya bercerai akan terluka hatinya?".."Bila ya, bagaimanakah caranya menyembuhkan luka tersebut?"...."Apa yang terjadi dengan anak lo Vie?, Sharing dunk"..

Menurut gw seh simple aja, luka batin seorang anak akibat perceraian disebabkan karena dia selalu sering melihat ketidakakuran/ketidakbahag
iaan/pertengkaran yang terjadi diantara orang tuanya dimana seringkali akibat pertengkaran ini orang tua sering lupa bahwa sebaiknya hal2 ini tidak dilihat oleh anak2 karena akan menimbulkan banyak praduga dan perasaan negative pada anak tersebut seperti merasa tersisihkan dan terasingkan atau bahkan merasa bersalah. Apalagi kalo anaknya tipe anak yang pendiam, seperti anak pertamaku, Dali.

Dali tidak bisa menyampaikan maksud isi hatinya walaupun sering kali gw ajak ngomong dari hati ke hati. Dia sangat bisa menyembunyikan perasaannya. Mungkin karena dia sudah berumur 2.5 taun ketika perceraian terjadi. Setidaknya dia sudah pernah mengalami kehidupan dengan orang tua lengkap dan merasa kehilangan ketika salah satu orang tua pergi dari rumah. Berbeda dengan Zahra yang belom genap setahun ketika perceraian itu terjadi. Kehangatan seorang ayah yang tidak pernah Zahra rasakan, juga tidak akan membuat dia merasa kehilangan. Zahra lebih expressive, dia akan terus terang bilang dan menunjukkan dengan nyata dan jelas apabila dia lagi in the good or bad mood. Juga berani untuk berargumentasi dengan ayahnya. Beda dengan Dali. Dali lebih menghindari sikap dan perbuatan yang dia kira ayahnya tidak akan suka. Dia akan mencoba untuk menjadi anak manis selama ayahnya lagi di dekatnya. Mungkin dia lagi menikmati sebanyak mungkin waktu kebersamaan yang memang terasa sangat singkat dan tidak tau kapan akan dapat dinikmati kembali mengingat tidak ada jadwal regular yang khusus dijadwalkan oleh sang ayah untuk anak2nya di Jakarta. Berulang kali gw mengajak mantan untuk mendiskusikan saran guru BP setiap kali gw mendapatkan panggilan dari sekolah Dali, berulang kali juga mantan mengatakan bahwa itu semua salahku yang menginginkan perceraian.

Untuk menyembuhkan luka batin seorang anak emang tidak gampang, karena untuk menyembuhkan luka itu tidak bisa hanya anak itu yang di ajak konseling atau berbincang2 dengan psikolog, tapi dia juga harus bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kalo pertengkaran/perselisihan orang tuanya tidak ada lagi atau orang tuanya udah akur2 aja, udah ngerasa fine2 aja. Karena aku yakin, kalo anak itu udah ngeliat ortunya ga bertengkar lagi, udah bahagia satu sama lain secara otomatis luka batinnya akan hilang.

Jadi menurut ak lagi lebih tepat kalo ingin menyembuhkan luka batin seorang anak, maka sembuhkanlah atau perbaikin dulu kualitas hubungan (meskipun udah bercerai) antara ibu dan ayahnya. Jangan sampe, si ibunya udah baik2, ga kesel lagi2, ga ngomongin yang jelek2 lagi, tapi si mantan pasangan atau si ayah disana maseh belom lepas masalahnya..nah si anak yang mungkin kebetulan waktu lagi jatah menginap di tempat si ayah, maseh akan mendapatkan input2 yang kurang baik dari sang ayah..jadi percuma aja...

Pengalaman setiap orang emang berbeda2...karena itu juga terkait dengan gimana keadaan perpisahan itu terjadi yang juga sangat tergantung dengan kondisi sifat dan mental setiap orang yang tentunya juga tidak bisa disamakan satu orang dengan yang lainnya...

Tapi percaya lah, kalo kedua orang tua selalu berniat untuk berbuat apapun untuk memberikan yang terbaik untuk anak2..walopun berpisah tetapi dengan didasarkan oleh niat baik untuk anak tadi, gw percaya orang tua akan mampu bekerja sama untuk menciptakan hubungan yang sehat, sehingga diharapkan anak2 tidak akan terlalu merasakan perbedaan (dalam konteks hub dengan orang tua) pra dan pasca perceraian.

Dan yang ak lihat dari anak2 sekrang ini, walopun masih kecil tapi kecerdasan dan tingkat pemahaman mereka kadang2 sudah melampaui batas dari yang orang tua duga atau pikirkan dimana mereka juga sangat sensitif. Oleh karena itu para orang tua tolong bijaksanalah !

Perceraian Pasti Menimbulkan Parut Pada Anak...Minimalkanlah!


Seorang teman yg telah memutuskan untuk bercerai curhat anaknya sakit panas tinggi dan rewel memanggil-manggil ayahnya, dan juga temen gw itu mengeluh ttg ketidakpedulian mantan pasangan yg tak kunjung datang menengok buah hati mereka.Terus keliatan sekali kalo temen gw itu sangat kalut dan ya tentu gw bs mengerti krn mereka blm lama bercerai, perasaan blm benar2 sembuh dan ikhlas dari sakit hati, nah sekarang anak yg sakit seakan menambah panjang daftar problem yg (mungkin) disebut sebagai dampak/akibat perceraian, yg kali ini dalam kasus temen gw, perceraian tersebut meninggalkan dampak/bekas/parut yg tdk disangka sebelumnya, bagi anaknya yg baru berusia kurang lebih satu tahun.

Menurut dan berdasarkan pengalaman gw menjadi seorang single mom selama hampir 5 tahun di Maret 2009 nanti, bahwa tidak dapat dielakkan perceraian menimbulkan traumatis pada anak dan hal itu tidak atau akan terjadi menjadi lebih dalam, jika - hanya jika -, kita dan ex tidak membiarkanterjadinya trauma yg dalam pada anak. Atau dengan kata lain adalah hanya pikiran kita dan ex yang dapat mengontrol, memberikan ijin atau tidak terjadinya dampak traumatis pada anak2 yg mendalam".

Anak2 adalah human being yang masih dibawah umur, yang maseh belom bisa mengerti sepenuhnya dan juga maseh tergantung sepenuhnya pada pikiran, keputusan dan tindakan kita, terlepas dari apakah tindakan dan pikiran kita itu akan berdampak baik ataupun buruk bagi anak2.

Dalam hal ini, gw memberikan komentar yang walopun mungkin agak2 terdengar ketus atau bagaimana, tapi percaya lah kalo gw tidak bermaksud untuk memberikan pandangan negatif atau apapun tapi hanya frankly saying my point of view on problem teman gw itu.

Sekiranya, sebelum memutuskan untuk bercerai...kita pasti sudah mempertimbangkan dengan baik keputusan bercerai dari semua sisi, plus dan minus, pribadi, pasangan, anak2 dan keluarga. Dan tentunya salah satunya kita harus sudah mempunyai gambaran kesiapan mental anak2 jika harus menghadapi kenyataan perceraian orang tuanya, misalnya dilihat dari kedekatan anak2 dengan kita, dengan ex, ataupun secara2 pelan2 berusaha menyiapkan mental anak2 pra penceraian dengan memberikan pemahaman sederhana yang mudah dan bisa diserap..gimana caranya?....gw kira itu berbeda2 antar tiap orang tua, karena hanya orang tua lah yang mengerti sifat tiap anak2nya.

Usahakan mencapai komunikasi/kesepakatan dengan ex bahwa jikapun terjadi perceraian, Insya Allah anak2 tidak akan menjadi korban dalam hal ini, karena kita semua tau bahwa "tidak pernah ada yang namanya bekas anak, maupun bekas orangtua".

Terus gimana dong Vie kalo gw udah melakukan semua yg lo lakukan diatas ?

Terus gw tanya lagi ma temen gw itu, "lo yakin udh melakukan dengan benar? lo yakin udh memikirkan itu semua dengan kepala dingin?" Karena gw yakin banget kl sebagian besar orang mengambil keputusan bercerai karena dorongan impulsif semata yg merasa sakit hati, ingin bebas dari derita perkawinan, ego yg super duper tinggi, yang intinya semua pikiran itu 90% hanya berkutat di sekitar "penderitaan" yg kita rasakan dan bagaimana mengatasinya, blm lg kl kita mendapat "kipasan panas" dari kompor2 di sekeliling kita. Sehingga bisa dibilang saat itu kita menjadi seorang manusia dewasa tapi autis, hanya memikirkan apa yg diri kita mau dan apa yg kita ingin.

Terus temen gw bilang gini, "Vie, gw kan ngikutin saran lo yg bilang kl kita sedih dan tidak bahagia dlm perkawinan, maka anakpun akan dapat merasakan. Nah, seperti yg lo bilang juga Vie..lebih baik gw cerai tp anak gw tidak akan mendengar pertengkaran lagi atopun melihat gw menangis. Dan jg gw liat Zahra fine2 aja."

Waduh, gw jd ngerasa bertanggung jawab neh. Tapi, gw bilang ma temen gw itu mungkin cara pikir yg gw pakai waktu memutuskan untuk bercerai belum pasti akan menghasilkan dampak yg sama bagi setiap orang. Ga bs dibilang berdampak absolut, karena sebagian besar variabel-variabel yg berperan sangat variatif dan relatif, antara lain kesiapan mental atau rasio antara logika dan perasaan seseorang berbeda satu sama lain. Mungkin bs dipake Common atau General Assumption/Practise yg terjadi dlm masyarakat sebagai acuan dan perbandingan, tetapi untuk langkah penanganan dan penyelesaian akan berbeda antara satu individu dengan individu lainnya.

Perlakuan yg diberikan oleh orang tua dalam menyiapkan anak2 untuk menghadapi perceraian juga akan berbeda krn tiap anak adalah unik yg hanya di mengerti oleh orang tua anak tersebut. Akan tetapi, gw yakin selama kita benar2 bs berusaha untuk bersikap dan berfikir seobjektif dan sematang mungkin, jauh dari rasa ingin balas dendam dan rasa2 negatif lainnya,kita dan anak2 pun akan melalui masa pra dan pasca perceraian dgn lbh tenang, tanpa ada banyak masalah major yg timbul.

Tapi ya sudahlah, sekrang kita hadapi saja kenyataan kalo anak temen gw itu menangis sampe sakit karena inget dan kangen ayahnya.

Kalo dari hal ini, gw bisa menyimpulkan bahwa hub sang anak sangat dekat dengan ayahnya, dan setidaknya sang ayah pun mempunyai kontribusi peran yang cukup besar di mata, hati dan pikiran sang anak. Karena anak2 sangat murni dalam bersikap, tidak bisa berpura2. Apalagi anak yg maseh berusia satu tahun.

Dan kalo sekrang setelah terjadi perpisahan, ternyata sang ayah tidak mau menemui anaknya, patut dipertanyakan atau mungkin sekiranya temen gw itu dapat me-rewind kembali apa seh yang kira2 bisa menyebabkan sang ayah kok tega bisa bersikap spt itu yang menurut dugaan gw neh, sewaktu kel masih utuh, sang ayah most of the time selalu meluangkan waktu untuk anak2nya, yang gw juga yakin sehingga terbentuk bonding yang sangat dekat antara sang ayah dan anak dimana logikanya sang ayah seharusnya tidak akan tega untuk berpaling atau mengacuhkan sang anak.

Terus gw minta tolong kepada temen gw itu untuk menurunkan ego dan menyisihkan rasa sakit hati,apabila kebahagiaan dan kesembuhan anak adalah diatas segalanya, berbesar hati
untuk mengalah (demi kemenangan loh ..untuk kebahagiaan anak), mengontak sang ex secara pribadi dengan bersahabat meminta kesediaan sang ayah untuk mengunjungi sang anak. Who knows hatinya akan tergerak kan...

Tetapi apabila sekiranya segala cara sudah dicoba dan hal yang diharapkan tidak terjadi, yah tidak ada cara lain lagi temen gw harus bisa menunjukkan ke anak untuk menumbuhkan sikap survival mereka (walopun mereka maseh anak2). Tunjukkan bahwa masalah yang dihadapi kita sekrang ini hanyalah segelintir kecil masalah dari sederet besar masalah lain yang sudah dalam antrian. Walopun terdengar keras dan mungkin kejam, tapi sedari kecil sedini mungkin kita sebagai orang tua harus bisa
menumbuhkan rasa seorang survivor di hati anak2 kita.

Tunjukkan ke anak2 kalo kadang kala kita tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kita inginkan atau sudah direncanakan. Susah banget awalnya, tapi lama
kelamaan dan konsisten,kita dan anak2 akan bisa passing through all kind of problems. Dimana tentunya kita harus memberikan contoh kepada anak dengan menjadi seorang ibu yg lbh baik dan jg bijaksana dengan tidak menjelek2an sang ayah d depan anak2. Sehingga, pasca perceraian mungkin saja hubungan yg lbh baik dapat terjadi antara kita,pasangan dan anak.

Anak-anak Broken Home (Part IV-End)


Membantu anak melalui perceraian mungkin menjadi salah satu tugas yang paling sulit yang pernah kita hadapi sebagai orangtua. Berikut ini adalah daftar singkat pengalaman gw yang mungkin dapat membantu saat kita berjalan melalui saat yang sulit ini dengan anak kita.

1. Jujur. Jangan membawa anak kita untuk percaya "ayah/ibu sedang pergi untuk urusan bisnis" atau "semuanya akan menjadi indah". Anak-anak sangat peka. Mereka tahu jika orangtua berusaha menyembunyikan sesuatu, bahkan jika tujuannya adalah untuk menjaga perasaan mereka. Anak-anak membutuhkan jawaban langsung sederhana yang mereka dapat pahami, tanpa menyalahkan atau membuat orang salah atau buruk.

2. Biarkan anak kita tahu ini bukan kesalahan mereka. Semua anak menganggap mereka mungkin bertanggung jawab terhadap perpisahan orangtua mereka. Anak-anak perlu diyakinkan dengan lembut berulang kali selama beberapa tahun pertama bahwa perceraian adalah keputusan orang dewasa yang tak ada hubungannya dengan perilaku mereka.

3. Mendengarkan dengan tenang. Anak-anak memiliki banyak pertanyaan, perasaan, asumsi dan kekhawatiran tentang perceraian. Banyak orang tua merasa sulit untuk hanya duduk diam dan mendengarkan anak-anak mereka berbicara tanpa mencoba menyela. Anak-anak perlu merasa didengarkan dengan penuh kesabaran dan perhatian penuh.

4. Banyak anak menyembunyikan perasaan sedih, sedih, marah atau bingung karena mereka takut mengungkapkan perasaan ini akan mengganggu orang tua mereka. Anak perlu tahu semua perasaan mereka dapat diterima.

5. Biarkan anak kita tahu itu adalah normal bagi mereka untuk ingin orangtua mereka kembali bersama lagi. Kita dapat menjelaskan kepada anak kita bahwa setelah bercerai, sangat tidak mungkin bahwa orang-orang bisa pulang bersama-sama, tetapi keinginan mereka untuk rekonsiliasi adalah sangat normal.

6. Yakinkan anak kita keamanan pribadi. Banyak anak yang khawatir jika orangtua mereka bercerai tidak akan ada cukup makanan atau tempat berteduh atau pakaian bagi mereka. Anak-anak yang hidup dengan ibu tunggal mungkin juga perlu diyakinkan bahwa kita memiliki rencana untuk melindungi mereka jika terjadi kebakaran, "pencuri" atau "hantu".

7. Tanyakan anak kita tentang teman-teman dari mereka yang orangtuanya bercerai. Ini adalah cara yang baik untuk anak kita belajar mengatasi ketakutan dan asumsi negatif tentang perceraian orangtua, dan memberi kita kesempatan untukmenjernihkan segala kesalahpahaman juga sekaligus dapat mengingatkan mereka bahwa anak-anak lain telah melalui apa yang sekarang mereka alami.

8. Jangan menempatkan anak di tengah-tengah atau mencoba untuk membuat mereka berpihak. Anak-anak harus mampu mencintai kedua orang tua. Jika salah satu orangtua mencela dari orangtua yang lain, anak akan mulai menarik diri, menjadi tidak jujur atau tertekan.

Who Is In Here A Single Mom With A Son Like I am???


Along with letting your boy seek his own heroes and role models, there are things you can do to allow him to be male. Whether or not you have a man around to show him the ropes, your son can grow up to be emotionally healthy just as many boys of single moms have already done.

The following tips have been compiled from my own experience:

1. Accept your son's differences.

2. Don't make your boy be the man around the house. True, you want to teach him to grow to be a man, but there's a distinction between being the "little man" and being responsible for things that adults are supposed to do. Your child is not your confidant, your knight in shining armor or your rescuer. Especially important for the newly widowed or divorced, correct people if they suggest that now your son "is the man around the house," or that he should "take care of Mommy."

3. When you look at your child and see his father's face, it's okay to get a little emotional. After all, if your ex gave you anything of value, you're looking at it. Let your son know how important he is to you.

4. Point out the positive qualities in men you see on a day-to-day basis. If you're buying your son baseball shoes, and the salesman is attentive or friendly, point this trait out by mentioning what a helpful person he is.

5. Be creative in helping your child learn guy stuff. For instance, many single mothers report concern over their son's sitting on the toilet to urinate, or playing with Mom's makeup. To get a head start on defining the differences between secondary sex characteristics between males and females, try this: Set out a tray just for your boy. Fill it with a mock razor, gentle shaving cream, watered-down cologne, his toothbrush, toothpaste and a comb. Let him know this is what most guys do every morning to their faces.

That somebody said so....and this somebody said the same also....



Somebody said it takes about six weeks to get back
to normal after you've had a baby.....
That somebody doesn't know that once you're a mother,
'normal' is history.

Somebody said you learn how to be a mother by
instinct ..
This somebody never took a three-year-old baby shopping.

Somebody said being a mother is boring ....
That somebody never rode in a car driven by a teenager with a driver's permit.

Somebody said if you're a 'good' mother,
your child will 'turn out good'....
This somebody thinks a child comes with
directions and a 100% satisfaction guarantee.

Somebody said you don't need an education to be a
mother....
That somebody never helped a fourth grader
with his math.

Somebody said you can't love the second child as
much as you love the first ....
This somebody doesn't have two children.

Somebody said the hardest part of being a mother
is labor and delivery....
That somebody never watched her 'baby' get on the bus
for the first day of his school

Somebody said a mother can stop worrying after her
child gets married....
This somebody doesn't know that marriage adds a new son or daughter-in-law to a
mother's heartstrings.

Somebody said a mother's job is done when
her last child leaves home...
That somebody never had grandchildren.

Somebody said your mother knows you love her, so
you don't need to tell her....
This somebody isn't a mother after all.

This isn't just about being a mother; it's about appreciating
the people in your life while you have them....no
matter who that person is.