Ketika Diriku Telah Menjadi Seorang Nenek


Ketika aku telah menjadi nenek
Aku akan tinggal dengan salah satu anak, menantu dan cucu-ku
Aku pasti akan membuat hidup mereka lebih meriah
Aku ingin menjadi orang yang menyenangkan buat mereka
Persis seperti arti mereka ketika kecil dulu bagi diriku

Aku tidak akan mencoret-coret dinding dengan krayon warna-warni seperti mereka
Melainkan aku akan senang sekali mewarnai hidup mereka dengan berbagai macam tingkahku
Seperti aku bermaksud untuk menuangkan air sirup untuk mereka
Namun tanganku yang selalu gemetar ini menjatuhkan botol air sirup itu ke karpet putih anakku
Persis seperti dinding putih rumahku yang penuh coretan warna-warni tangan mereka dulu



Ketika mereka memasakkan diriku makanan yang lembut dan bergizi tak berasa garam
Aku akan menghabiskan semua makanan untuk menyenangkan hati mereka
Tapi perutku yang sudah tua ini menolak, apa daya aku pun memuntahkannya
Dan mereka pun kemudian akan berteriak yang aku tahu sebagai tanda perhatian mereka padaku
Lalu aku pun akan mencoba untuk bergerak berlari menjauh...jika rematik pada kaki-kaki-ku ini tidak kumat

Akhirnya kemudian berbaring di tempat tidur menjelang malam dimana hari akan segera berakhir
Siap-siap beranjak ke alam mimpi dengan menutup mata dan berdoa kepada Tuhan
Namun tak lama kemudian,aku tau bahwa anak dan cucu-ku akan datang ke kamarku
Mereka akan melihatku dengan senyum lebar di wajah sambil berkata
"Alangkah cantik dan damainya wajah nenek ketika dia sedang tertidur"
Persis seperti kata-kata yang sering diriku ucapkan ketika melihat wajah malaikat-malaikat kecilku tertidur berpuluh tahun yang lampau.

Never Be Afraid To Love And To Get Hurt



If I don’t have freedom to love, will it be that meaningful?
Do I have to restrict myself in only loving one person?
Do I just consider it pity when I can't leave someone and see him crying as I try to let go? Do I call it love when I fell too attach and think that losing the one I love will somehow make me weak and unable to face the storms of life?
Do I call it love when I give my whole life to him, the wholeness of me and imagined that if he leaves, no one would accept me as he did?

Even if I have everything like a good name, wealth, career, etc…or even if the world revolves around me,things can’t be perfect all the time. In reality, life comes with so many imperfections and these imperfections make life more interesting and more exciting.

Life has so many imperfections and all these questions are part of it. In life, I have to take risks, discover new things, meet new people and soon I realize that I can exceed my own expectations even though at first, I never thought it’s possible.

It’s just like love that I should not be afraid to love, to commit mistakes, to get hurt and in the end, I'll realize that when I love, a heart can never be confined in a box then I can be able to say “I love you whoever you are and whatever it takes for me to love you".

Pria dan Wanita Saling Melengkapi, Bukan Saling Mengungguli



Dalam banyak hal, perempuan merasa kedudukan mereka lebih rendah daripada pria. Oleh karena itu, perempuan dengan berbagai cara berusaha untuk meningkatkan status kedudukannya di masyarakat. Hal ini adalah selama ini yang masyarakat kenal sebagai emansipasi. Sebagian hasil emansipasi dirasakan positif untuk kaum wanita, yang sayangnya, saking dirasakan positifnya kaum wanita akhirnya menjadi 'kebabalasan' dalam menuntut (yang mereka pikir sebagai) hak-haknya. Apalagi standar yang dipakai adalah pencapaian kaum pria. Konyol sekali bukan?

Tentu saja, ini konyol sekali. Mengapa pencapaian kaum pria yang dipake sebagai standar atau tolak ukur dari keberhasilan emansipasi? Pencapaian kaum pria sebagai standar dan acuan dari emansipasi akan mengakibatkan kaum wanita tidak benar-benar mengenal dirinya, tidak benar-benar tau apa yang kaum wanita sebenarnya mau, apa yang sebenarnya dibutuhkan, apa yang sebenarnya menjadi kewajiban mereka, dan apa yang menjadi tujuan hidup para kaum wanita ini sendiri. Bukankah hal ini sangat bertolak belakang dengan konsep 'instropeksi diri' untuk menjadi seseorang dengan kepribadian yang lebih baik? And the funny thing is we, women, never ask why and what for we struggle to meet such men standard? Don't we we have our own standard?



Dalam emansipasi, kaum wanita hanya terpaku memandang 'kelemahan-kelemahan'nya. Padahal sebagai manusia yang mempunyai banyak keterbatasan, kaum pria pun tentu mempunyai kelemahan yang tidak kalah banyaknya dari kelemahan-kelemahan yang dipunyai oleh kaum wanita. Persoalannya, kelemahan yang dimiliki oleh seorang pria tidak sama dengan kelemahan seorang wanita. Tapi, memang inilah mungkin tujuan Tuhan dalam menciptakan sepasang manusia, laki-laki dan perempuan. Kelemahan seorang pria adalah kekuatan yang dimiliki seorang wanita, sehingga sepasang manusia ini akan saling menutupi kelemahan masing-masing dengan kekuatan yang dipunyai lawan jenisnya. Saling kompatibel satu dengan lainnya, sesuai dengan takdirnya masing-masing. That makes woman and man complement each other.

So, first of all let us drop this debate about superiority and inferiority. Neither woman is inferior to man, nor is man inferior to woman. Women are not helpless creatures living at the mercy of men. Women are in this world to equally share all burdens and take part in all affairs. Men and women are equally superiors - in their own ways, and their own areas.

Therefore, please stop arguing and fighting for emancipation. Wanita, kekuatan-mu adalah 'kewanitaanmu (womanhood)', dan ini adalah 100% takdirmu, 100% milikmu, bukan milik siapa-siapa dan tak akan tergantikan oleh siapapun dan apapun.

Ibu Kartini pun Tersenyum Bahagia


Wah ga terasa udah mau tanggal 21 April, hari Kartini. Emang seh, semenjak menginjak bangku sekolah menengah pertama sampai telah berada di dunia kerja, greget-nya hari Kartini tidak begitu terasa lagi. Mungkin karena gw tidak lagi secara langsung ikut berpartisipasi dalam acara dan juga sekarang ini kegiatan perayaan untuk memperingati hari kelahiran Ibu Kartini tidaklah semeriah lagi seperti halnya jaman SD dulu yang diramaikan oleh berbagai macam lomba seperti lomba peragaan busana daerah, lomba mengarang bertemakan Ibu Kartini dan yang pasti tidak ketinggalan dan juga menjadi favoritnya Vie yaitu lomba menyanyi he..he..

Maseh tercetak dengan jelas dalam ingatan, betapa getolnya gw untuk ikutan lomba peragaan busana daerah. Benernya seh bukan karena lombanya, tapi getolnya itu lebih disebabkan euforia kapan lagi gw bisa tampil cantik dan manis pake di-dandan-in lagi terutama bagian ber-bibir merah yang menjadi my favorite he..he...
Getolnya gw yang kedua adalah gw suka banget melihat diri gw dalam balutan baju daerah, terutama kebaya. Bukan hanya sekedar suka banget, tapi juga ketakjuban melihat diri sendiri di depan cermin yang selalu dirasakan setiap kali Vie mengenakan busana daerah dan kebaya. Aura feminin Vie langsung lebih kental terlihat, simbol sebagai 'perempuan Indonesia' tergambarkan dengan jelas dan sempurna ceileee....
Yah itu seh perasaan gw loh..sah-sah aja kan :)

Namun, semenjak mempunyai anak-anak yang telah duduk di bangku sekolah dasar, gw kembali merasakan 'greget-nya' hari Kartini melalui kegiatan peringatan yang diselenggarakan oleh sekolah Dali dan Zahra. Seperti kembali mengulang masa lampau, Dali dan Zahra sama-sama memilih berpartisipasi dalam lomba peragaan busana daerah. Well, What can I say but like mother like children :)

Tapi sebenarnya peringatan hari Kartini mempunyai arti yang jauh lebih luas dan 'dalam' daripada sekedar seharian mengenakan busana daerah ataupun berpartisipasi dalam berbagai macam lomba.
Bagi gw, setidaknya, hadirnya hari Kartini setiap tahunnya sebagai 'reminder' atau mengingatkan kaum wanita untuk tidak menyia-nyiakan dan menyalah-kaprahkan esensi dari makna kalimat 'emansipasi wanita' yang telah diperjuangkan oleh Ibu Kartini sepanjang hidupnya.



Di abad ke-21 ini, seperti halnya yang terjadi pada sebagian besar negara di dunia, Indonesia terutama kota-kota besar seperti Jakarta, apa yang diperjuangkan oleh Ibu Kartini yang dikenal sebagai emansipasi wanita ini boleh dibilang sudah menjadi kenyataan. Dibuktikan dengan kaum wanita telah banyak yang memiliki gelar pendidikan setara dengan kaum pria bahkan ada yang melebihi. Akses pendidikan dibuat dengan mudah dan dibuka selebar-lebarnya untuk kaum wanita. Begitupun halnya dengan pekerjaan. Hampir semua macam lapangan pekerjaan telah ada partisipasi makhluk wanita di dalamnya, walaupun mungkin jumlah pekerja pria lebih dominan dibandingkan populasi wanita, tapi setidaknya hal ini sudah menjadi tanda bahwa tidak ada yang tidak dapat dilakukan oleh wanita. Banyak wanita yang juga telah menjadi pimpinan usaha-nya sendiri, bahkan seorang wanita juga pernah memegang puncak pimpinan pemerintahan tertinggi di Indonesia. Mudah-mudahan semua kemajuan dan pencapaian yang dilakukan oleh kaum-ku ini akan membuat Ibu Kartini dapat tersenyum bahagia di alam sana.

Lo yakin Vie, Ibu Kartini tersenyum bahagia di alam peristirahatan-nya? Yakin banget, bahkan saat ini tergambar di benak gw dengan jelas seraut wajah teduh milik seorang ibu yang dikenal dengan nama khas wanita jawa, Kartini, yang berhiaskan senyum manis dibibirnya walaupun sedikit ternoda oleh raut kecemasan yang terlihat dari sedikit kerut di pelipis dahi-nya dan dari pancaran sinar mata-nya.

Hm...kenapa selalu ada kontra versi atas semua kejadian? Mungkin benar kata pepatah bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini dan bahwa kesempurnaan hanyalah milik Sang Maha Pencipta.
Kenapa sang Ibu terlihat cemas? Apa lagi yang dikhawatirkan olehnya? Bukankah apa yang telah menjadi impiannya, yang telah diperjuangkan olehnya telah tercapai?

Sang Ibu bahagia sekali tetapi juga merasa cemas melihat makna emansipasi wanita Indonesia terkontaminasi oleh emansipasi wanita ala dunia modern. Emansipasi wanita yang diidamkan oleh Ibu Kartini adalah emansipasi wanita yang tetap mengingat kodrat yang telah digariskan oleh Tuhan khusus untuk wanita, dimana selain berprofesi sebagai wanita pekerja atau wanita yang berkarir professional istilah kerennya, kaum wanita juga mempunyai profesi dan posisi lain sebagai seorang istri untuk seorang laki-laki dan seorang ibu dari anak-anak yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingannya. Ibu Kartini yang juga seorang perempuan Jawa tentunya sadar dan menghormati sekali ketentuan Tuhan ini. Begitu banyak-nya profesi dan posisi yang dianugrahkan oleh Tuhan kepada kita, kaum perempuan. Menunjukkan bahwa Tuhan sangat sayang dan mengistimewakan kaum wanita sekaligus menaruhkan kepercayaan-Nya yang sangat besar kepada kita, kaum wanita.

Sayang sekali, ada beberapa dari kaum kita (kalau tidak mau dikatakan banyak) yang memandang lain makna dari kodrat wanita ini. Biasanya mereka yang sudah dirasuki oleh pikiran-pikiran feminisme ala dunia modern yang dianut oleh negara-negara barat sana. Feminisme yang malah memandang kodrat wanita sebagai pembatasan hak kaum wanita. Feminisme yang menurut gw salah kaprah. Feminisme yang walaupun mendorong peningkatan jumlah wanita yang bertitel wanita karir, akan tetapi di lain pihak juga mendorong peningkatan jumlah perceraian.

Loh Vie, lo kok seakan-akan membuat kaum wanita sebagai pihak nomer satu penyebab hancurnya sistem dan ikatan rumah tangga di Indonesia? Emangnya ga ada kontribusi pria dalam hal ini?

Pasti adalah ! Tapi kembali lagi ngapain juga kita ngomongin dan ngebahas sesuatu yang diluar kendali kita. Kaum pria adalah entitas lain dalam sistem kehidupan ini. Mereka mengendalikan diri mereka sendiri, jadi satu-satunya yang bisa kita kendalikan adalah diri kita sendiri, kaum kita, kaum perempuan.

So, feminisme yang menurut gw salah kaprah ini, feminisme yang mengingkari kodrat wanita adalah suatu pola pikir hiperbola dengan rasa ke-egois-an dari seorang wanita. Pola pikir hiperbola dimana seorang wanita dengan posisi karir gemilang dengan self-pridenya yang over dosis mengatakan bahwa dunia telah ada berada dalam genggamannya,seorang wanita yang merasa dirinya sangat independen. Bagi gw seh tidak lebih dari seorang wanita yang bodoh.
Loh kenapa begitu Vie?

Tidak-kah disebut bodoh apabila ambisi pribadi lebih mengalahkan akal sehat dan intuisi sebagai seorang wanita?

Apabila gw mempertanyakan independensi mana yang dimaksud, dan ternyata independensi yang dimaksudkan itu ujung-ujungnya adalah uang yang tidak menjadi masalah. Hm..bukankah hanya orang yang bodoh yang membiarkan dirinya dikendalikan oleh uang dengan berpendapat apapun bisa dibeli dengan uang, dan maseh menganggap dirinya sudah independen?...OMG
Dan bukankah hanya orang yang bodoh yang maseh berpola pikir seperti para majikan di masa perbudakan?

Tidak-kah tepat disebut bodoh kalo kaum wanita yang selama ini mengagungkan kesamaan jender antara pria dan wanita malah akhirnya kaum wanita yang melecehkan prinsip itu sendiri dengan berperilaku merendahkan kaum pria dengan mengacuhkan rumah tangga, suami dan anak-anaknya?

Setiap hidup ini pasti ada unsur dan hal lain yang membatasi. Suatu batasan yang dimaksudkan untuk tujuan baik. Agar kita tidak melenceng dari tujuan awal kehidupan ini yang sebenarnya telah ditetapkan oleh Tuhan kepada kita semenjak kita dilahirkan ke dunia ini.
Maseh banyak lagi yang dapat gw tuliskan akan tetapi gw dibatasi harus segera siap-siap untuk berangkat ke kantor. Kalau tidak ada kesadaran akan batasan ini, akibatnya gw bisa terlena terus menulis, akhirnya terlambat ke kantor, pekerjaan untuk hari ini yang seharusnya dapat terselesaikan tidak akan maksimal, pasti dunk gw akan dimarahi oleh boz yang bisa-bisa nanti gw terkena ancaman pemutusan hubungan sepihak :)

So, mudah-mudahan Ibu Kartini suatu saat nanti akan bisa 100% tersenyum lebar nan bahagia 'melihat' kaumnya yang berpola pikir modern tetapi tetap mengingat dan sadar akan kodratnya sebagai wanita:)

Mengapa Vie Menginginkan Suami?



Why do I want a Husband? Iya ya....apakah diriku masih membutuhkan seorang suami?

Apakah benar diriku masih membutuhkan seorang pendamping hidup? Apakah diriku masih mau mencoba lagi? Seperti kata anak-anakku,"Kita ga apa-apa sih mami menikah lagi. Tapi nanti ayah baru mau ngapain, Mami? Secara kan Mami selama ini bisa melakukan semuanya sendirian dan kita pun tidak mengeluh kok".

Selama lebih dari 6 tahun menjanda ini, memang mungkin belum saat yang tepat bagi diriku berjumpa dengan "Mr Wonderful",seseorang yang diriku nilai sangat layak untu dijadikan calon suami. Kesannya Vie menjadi too picky ya, pake ada kriteria layak atau tidak layak. Padahal kan peluang dan pilihan bagi seorang janda dengan anak seperti diriku ini kan tidaklah luas. Tapi yah boleh2 aja toh....sapa sih yang mau gagal untuk ke-dua kalinya? Kalo bisa kan seoptimal mungkin harus aku hindari.

I have no complain at all why I don't meet this Mr Wonderful yet. Karena sadar kalo diriku ini juga tidak mencari dengan sengaja kok. Se-ketemunya ada. Lah kok jadinya pasrah begitu yak? Allah kan menyuruh kita manusia untuk berusaha. Well, dengan bekerja di luar rumah, bertemu orang baru, berteman adalah merupakan suatu 'usaha', begitulah diriku menanggapi pengertian dari 'usaha' ini. Walaupun tidak dengan sengaja mengusahakan untuk secepatnya mendapatkan si Mr Wonderful, diriku ini kadang membayangkan how much easier life would be if I had a partner. You know, a wonderful man to carry in the groceries when the weather is cold and rainy. Someone to pick up my children from school when I’m running late. A man to be my safety net if I lost my job. So wonderful imagination kan...makanya aku menjuluki si potential man itu dengan julukan Mr Wonderful...jiyahhhh he...he...

Kembali ke topik semula, Apakah diriku masih menginginkan seorang suami? Jika ya, mengapa diriku menginginkannya?



Aku menginginkan seorang pria untuk dijadikan suami agar ada seseorang yang memperhatikan, menjaga dan menyayangi diriku lebih dari sekedar teman, juga agar diriku mempunyai seseorang yang rela bekerja keras mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan aku dan anak-anak sehingga aku bisa nyante-nyante aja di rumah alias ga repot harus kerja lagi, terus supaya aku bisa membagi beberapa masalahku jadi kepalaku ga terus pusing apalagi menjelang pertengahan bulan he...he...

Tetapi, setelah aku membaca daftar alasan mengapa Vie menginginkan seorang suami ini, diriku malah terkejut. Wah ternyata betapa egoisnya diriku ini. Daftar alasan ini menunjukkan dengan jelas bahwa dalam suatu hubungan, diriku mengharapkan lebih banyak menerima ketimbang memberi. Padahal diriku paham bahwa suatu hubungan tidak akan berjalan dengan baik apabila satu atau dua orang yang menjalin hubungan tersebut maunya menerima mulu. However, no woman should marry a man soley for sanctuary or for security.

Pernikahan adalah suatu hubungan yang diberkahi oleh Tuhan. Dan kita menikah pun harus didasarkan dengan niat untuk mengasihi pasangan kita sampai kematian memisahkan. Yang artinya adalah sebanyak mungkin memberikan kasih tanpa syarat. Sebaiknya kita pun menyadari bahwa tidak seharusnya kita menyandarkan semua keinginan kita pada calon suami kita. Tidak tepat rasanya, karena dia pun manusia biasa seperti kita yang mempunyai keterbatasan. Hanya kepada Tuhan-lah kita menyandarkan semua keinginan itu. Karena memang hanya Tuhan yang bisa mengabulkan semua keinginan kita. Jadi, jika diriku masih menginginkan seorang suami, alasan yang tepat adalah karena diriku mencintainya, dan membutuhkan dalm hidupku bukan untuk alasan materiality. Tapi karena diriku meyakini bahwa dengan hadirnya seseorang kembali dalam hidupku, bisa membawa diriku menjadi seseorang yang lebih memahami kodratku sebagai seorang wanita,lebih menghargai hidup ini, memiliki keimanan yang lebih baik, kecintaan terhadap Tuhan yang semakin besar, dan lebih mengasihi sesama. Pendeknya, aku membutuhkan suami yang dirinya patut untuk kujadikan imam di dunia dan akhirat untuk diriku dan anak-anak. Amin:)

Jomblo Mulu...Ayo Instropeksi Diri:)



"What have I done to always have a bad luck in love?? What's wrong with myself?? What should I do to fix it?? to find my true love?? please help me.."

Seuntai kalimat-kalimat diatas merupakan curahan hati seorang gadis yang mengeluhkan dirinya selalu gagal dalam setiap hubungan percintaan yang telah beberapa kali dijalaninya. Sepintas dilihat dari penampilah fisik gadis tersebut, rasanya tak percaya bahwa gadis secantik, semenarik, dan se-baik itu selalu tidak beruntung dalam dunia percintaan. Apalagi yang kurang dari dirinya??

Kalaulah bisa meminta satu permintaan yang dijamin bakal dikabulkan, tentunya kita ingin dilimpahi kurnia cinta yang berbalas oleh pujaan hati. Namun kenyataan yang terjadi seringkali tidaklah seperti yang diharapkan. Hubungan cinta yang pada awalnya dibina dengan perasaan penuh asa, kemudian akhirnya harus rela berakhir pada suatu kekecewaan dan patah hati. Selagi menunggu munculnya sang pangeran hati sejati yang sedang tersesat karena malu bertanya sesat dijalan, kita bisa memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menyiapkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik sehingga lebih siap untuk menyambut ketika cinta sejati itu datang:)

- Ayo cobalah untuk lebih mencintai diri sendiri

Untuk dapat lebih mencintai diri sendiri, maka kita harus mau untuk lebih mengenal diri kita yang sesungguhnya. Gali-lah lebih dalam sisi-sisi positif dan negatif, kelebihan juga kelemahan yang ada pada diri kita. Tanyakanlah dan jawablah dengan jujur serta obyektif pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan sendiri kepada diri kita, misalnya apakah benar bahwa kita adalah individu dengan kepribadian yang menarik seperti yang kita kira selama ini? Jika memang iya, apakah kita telah cukup puas dengan kepribadian kita ini? Atau apakah kita masih ingin menjadi seseorang yang lebih baik? Jika kita masih ingin melakukan perubahan, apa sajakah dari diri yang pengen kita 'up-grade'? Alasan apa yang mendasari kita untuk berniat melakukan 'self up-grading'?

Dengan semakin kita dapat menghargai dan mencintai diri kita sendiri, maka rasa percaya diri pun akan meningkat dengan sendirinya. Only when we know our real self-worth and learn to appreciate it can we find self-respect that is very essential in our relationship with other people. We cannot give others something that we cannot give ourselves. If we cannot love ourselves, how can we love others the way we want to be loved, rite?



- Ayo telusuri sudah-kah kita benar-benar peduli akan segala sesuatu selain diri kita sendiri?

Kegagalan dalam hubungan percintaan sering kali dipacu oleh ke-egois-an dan dominasi oleh salah satu pihak. Biasanya rasa egois dan dominan ini timbul karena sang pihak tersebut lebih memandang tinggi dirinya dibandingkan orang lain.

Apabila kita telah benar-benar dengan jujur menilai serta lebih menghargai diri sendiri, maka yang kepribadian baru yang muncul adalah kepribadian yang lebih 'membumi', suatu kepribadian yang lebih menyadari kodratnya sebagai manusia yaitu makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dari sekian banyaknya makhluk lain ciptaan-Nya di muka bumi ini. Karena kesempurnaan yang diberikan kepada kita sebagai umat manusia oleh Sang Pencipta, maka kita harus menyadari tujuan diberikannya kesempurnaan ini, yaitu untuk dapat membantu Tuhan melanjutkan perannya di bumi yang diciptakan-Nya dengan saling memperhatikan, saling menolong tidak hanya sesama umat manusia tetapi juga kepada makhluk lainnya.

Dalam konteks yang lebih personal, seseorang dengan kepribadian yang menarik adalah seseorang yang perhatian terhadap lingkungan sekitar kita, ya keluarga, tetangga, teman dsb. When we practice serving others it will soon become a positive habit that other people will find attractive. More people will be drawn to our personality and to our heart, which is more important than being appreciated for our looks. Our inner beauty is raising and shiningly bright:)


- Masa-masa kesendirian???.....Enjoy Aja..:)
Hal ini mudah sekali dilakukan jika kita sudah menemukan kebahagiaan dalam melayani orang lain. Jangan tidak sabar dalam mencari cinta dalam hidup kita tetapi nikmatilah masa-masa lajang ini dengan keluarga dan teman-teman. Selalu pasang muka dengan senyum ceria dan sapaan yang ramah serta perhatian yang tulus kemanapun kaki kita melangkah membawa diri kita bertemu dengan muka-muka baru yang mungkin hadir menyapa hidup kita.

Nikmati masa lajang dengan keluarga dan teman-teman. Sad people are not attractive. When we always have a ready smile on our face and a bright personality, people will easily see us. We will stand out from the rest of the crowd and we never know in one corner someone who is willing to love us like we ever dreamed of is already paying attention on ourselves:)


Do not push ourselves to find someone as that will only be a disaster, just let us to wait the right time comes and please be sure that God will provide us with the right person. True love waits and it will in time come to us, Amin:)

Susah Ga Seh Jadi Ibu Tiri Yang Baik??



Mungkin bisa dibilang hampir semua wanita di muka bumi ini ga kebayang bakal jatuh cinta setengah mati ma kaum duda dan dengan membawa anak pula. Yah namanya jodoh...kita kan emang ga pernah tau siapa sih jodoh kita nanti. Tapi hm.....menikah dengan duda yang membawa anak-anak sebagai pelengkap dirinya...yang pasti udah kebayang dibenak kita tuh bahwa hidup kita bakal lebih meriah dari bayangan kita selama ini. Udah pasti lah, kita ngebayangin awal pernikahan hanya di-isi oleh kita dan pasangan saja, sehingga masih tersedia cukup banyak waktu luang yang bisa kita nikmati hanya berdua dan juga ruang kosong yang tidak perlu kita segera isi penuh sampai saat kita merasa telah tiba waktu yang tepat untuk itu.

Tapi jatuh cinta dan kemudian menikah dengan pria yang berstatus duda dengan anak tentunya seketika membuyarkan segala bayangan yang selama ini tersimpan dalam benak kita. Jangankan bisa berleha-leha menikmati waktu luang dan ruang kosong itu, meskipun seejenak, jangan-jangan masa pacaran kita saja sudah direcoki oleh banyak pihak...tidak hanya keluarga dan teman-temannya saja, tetapi ditambah juga oleh anak-anaknya dan (mungkin) mantan istrinya. Namanya punya anak dari perkawinan terdahulu, membuat adanya suatu hubungan yang tidak bisa terputuskan sama sekali dengan sang mantan istri. So, mau ga mau, ikhlas ataupun tidak, suka atau tidak suka, kalau kita benar-benar cinta dan berniat membangun keluarga dengan si dia, maka harus menerima dirinya beserta paket lengkapnya:)

Nah, sebelum bersiap-siap menjadi ibu tiri secara instant, lebih baik dan ga ada salahnya membaca artikel ini yang merupakan hasil survey kecil-kecilan terhadap sekumpulan kecil teman-teman yang berstatus 'ibu tiri' dengan tujuan untuk memberikan sekilas gambaran realitas mengenai kehidupan seorang ibu tiri.

- Paham untuk tidak memaksakan anak-anak tiri untuk secara instant menyukai kita
Untuk menerima seseorang yang baru dalam kehidupan kita tentunya membutuhkan tidak sedikit perasaan suka terhadap seseorang yang baru tersebut. Dan untuk menumbuhkan perasaan suka ini secara wajar, tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan harus didukung oleh interaksi personal dengan intensitas yang cukup sering dan berkualitas.

Karena, menurutku, anak-anak tidak akan bisa langsung pertama kali langsung menganggap diri kita sebagai 'ibu ke-dua'. Bagi anak-anak, seseorang harus cukup layak untuk menyandang status ibu. Tidak bisa begitu saja kita mengharapkan anak-anak dengan ikhlas bersedia untuk memanggil kita ibu hanya karena kita menikah dengan ayah mereka. "Siapa Loe? Emangnya loe pernah melahirkan gw?" demikianlah ringkasnya pendapat anak-anak. Bagi anak-anak yang mempunyai hubungan yang baik ataupun tidak baik dengan ibu kandung mereka, keadaannya akan sama saja. Mereka akan merasa sang wanita baru ini hendak mencuri kasih sayang sang ayah. Tidak akan pernah mudah dan butuh proses tentunya. Terutama karena image ibu tiri yang kadung jelek di pikiran masyarakat umum, ekspektasi dan pengertian dari kata sifat "Baik" yang berbeda antar individu, dan sampai belum adanya metode baku yang tepat mengenai "Bagaimana Menjadi Seorang Ibu Tiri yang Baik dan Benar".

Nah, sebaiknya biarkan saja hubungan ini beserta keintimannya berjalan dan terbangun secara alami dan wajar. Perbesar rasa kesabaran dan rasa empati kita terhadap anak-anak pasangan.


- Paham bahwa peran kita sebagai ibu tiri bukanlah pelengkap kekurangan ataupun melebihi peran sang ibu kandung
Ingatlah, bahwa figur ibu kandung tetaplah ibu kandung di mata anak-anaknya, seburuk apapun dia. Dan begitu juga dengan kita. Peran dan status kita sebagai ibu tiri, akan tetap sebagai ibu tiri di mata anak-anak, sebaik apapun kesan kita di mata mereka.

Diriku percaya sebagai ibu tiri, kita tidak akan bisa berbuat atau memberikan yang lebih baik dari yang dapat diperbuat ataupun diberikan oleh orangtua kandung. Kita tidak dapat menembus ikatan darah yang terjalin antara anak tiri kita dan orangtua kandungnya.
Sebagai orangtua tiri, kita tidak lantas menjadikan diri kita lebih baik daripada orangtua kandungnya hanya karena kita menerima tugas sebagai orangtua untuk seorang anak yang secara biologis bukan anak kita. Kita mempunyai banyak keterbatasan seperti kita tidak mempunyai hak untuk memarahi anak tiri seperti orangtua kandung melakukannya.

Paling banter hal yang seharusnya dapat kita lakukan adalah memberikan kelembutan dan pengertian dimana banyak orangtua kandung lupa akan hal ini karena orangtua kandung tidak merasa perlu untuk disukai, mereka tahu terlepas dari apapun kesalahpahaman ataupun ketidakcocokan antara mereka dan anak2nya, akan selalu ada ikatan darah yang menghasilkan cinta yang tanpa syarat dan tidak mengenal batas yang selalu terjalin antara mereka.



- Paham bahwa status ibu tiri bukan lantas membuat diri kita kehilangan identitas diri
Tunjukkan diri kita apa adanya. Jangan memanipulasi diri kita menjadi seseorang dengan figur ibu yang ideal, karena segala bentuk kepura-puraan tidak akan berlangsung lama seiring kelelahan yang akan semakin besar menimpa kita. Lagipula anak-anak adalah 'sensor alami' yang terbaik dari segala alat sensor yang ada. Anak-anak dengan nalurinya yang masih polos dan tajam akan bisa menilai apakah kita benar-benar tulus sayang pada diri mereka atau tidak.

Sebaiknya para ibu tiri harus benar-benar mengerti akan hal ini. Sangat besar kemungkinan ibu untuk melakukan apa saja demi merasa ingin disukai oleh anak2 tiri mereka. Bahkan kadang harus bersandiwara menjadi seseorang yang bukan diri mereka sendiri untuk mendapatkan cinta dari anak2 tiri mereka. Tetapi hal ini tidak akan berjalan untuk selamanya. Tidak ada seseorangpun yang dapat bertahan dengan nyaman hidup dalam kepalsuan. Tidak akan ada seseorangpun yang dapat memakai topeng selama yang dia inginkan. Apalagi kalo tujuannya tidak tercapai, dan hasilnya pun akan lebih jauh dari sekedar baik.


- Paham keharusan untuk meminimalisasikan seminimal mungkin rasa cemburu yang timbul pada diri kita
Sebagai seseorang yang baru menikah tentunya kita pengen mempunyai waktu pribadi hanya berdua-duaan saja dengan sang pasangan. Namun, kok kayaknya hal ini terkesan tidak mungkin ya apalagi melihat keakraban yang sangat erat antara pasangan dengan anak-anaknya. Cemburu sih...tapi mau gimana lagi....mau ga mau kan kita ga bisa memiliki dia sepenuhnya alias harus membagi perhatian pasangan dengan sang anak, dan tidak bisa mengeluh apabila porsi perhatian sang pasangan ternyata lebih besar untuk anak-anaknya daripada untuk kita.

Kalau kita mulai merasakan hal ini merasuki pikiran dan hati kita, sadarkanlah dengan mengingat kembali komitmen awal beserta segala pertimbangannya mengapa kita malah memilih sang duda untuk menjadi pasangan hidup ketimbang sejuta pria single diluar sana. Tentunya plus-nya lebih banyak daripada minus-nya kan? Nah, ingatlah sejuta point-point plus ini untuk mengenyahkan rasa cemburu itu.Anak-anak bukan saingan kita, tetapi sudah merupakan bagian dari hidup kita sekarang yang harus dengan tulus kita sayangi dan terima, sama besarnya rasa sayang dan penerimaan terhadap ayah mereka.

Orangtua tiri, menurutku, harus sadar memiliki tugas yang tanpa pamrih. Orangtua tiri tidak akan bisa menjadi pemenang utama dalam merebut hati anak2 tiri maupun pasangan kita. Namun, perlu juga disadari ada satu hal yang sebaiknya selalu diingat, sesungguhnya situasi untuk anak tiri bahkan lebih parah dari kita.

Orang dewasa, kita, masih selalu bisa mendapatkan suami atau istri yang baru. Namun, anak hasil dari perceraian tidak akan mendapatkan ayah atau ibu yang baru, sama seperti mereka tidak akan mendapatkan sebuah hati yang baru ataupun paru-paru yang baru. Baik dalam suka maupun duka, senang maupun susah, anak2 akan selalu dalam bayang2 orangtua kandungnya dan begitupun juga orangtua kandung terhadap anak-anak mereka.

So, setelah baca uraian diatas, kembali tanyakan dengan jujur pada diri kita sendiri, jauh kedalam hati nurani, sudahkah kita siap untuk menyandang gelar ibu tiri?:)

Kualitas Pria Seperti Ini yang di-Cari Oleh Seorang Ibu Tunggal



Tipe pria seperti apakah yang cocok untuk seorang Janda, dengan anak maupun tidak;

- Sangat penting bagi anak-anak untuk tidak mempunyai orangtua yang sehat, tidak hanya jasmani melainkan juga psikis. Termasuk dalam hal ini adalah memiliki orangtua yang tidak pemabuk, tidak pemukul dan tidak juga melakukan pelecehan.

- Dapat 'get along' dan 'having fun time' (bermain, tertawa, berkomunikasi, sabar) dengan anak kita....jangan lupa kalo anak-anak biasanya mempunyai 'naluri alami' untuk mendeteksi apakah seseorang itu tulus menyukai anak-anak atau tidak. Dan jangan acuhkan firasat anak-anak kita karena rasa cinta kita yang besar terhadap pria tersebut ataupun karena 'rayuan gombal'nya.

- Perhatikan, biarpun terlihat dia menyukai anak kita, apakah kemudian dia akan bersikap seperti 'biological father', seperti berkata keras atau memarahi anak-anak kita, mengatur tingkah laku dan kegiatan anak-anak kita (Just keep in our mind that..well...we are not married yet, so you are not my kids father yet...anyhow...they already had their biological father).

- Pria tersebut tidak lantas cemburu ketika kita memprioritaskan kepentingan anak-anak, dan dapat mengerti kita tidak bisa setiap saat ada untuknya karena kita mempunyai anak-anak yang seringkali membutuhkan perhatian kita mungkin sama besarnya dengan yang pria tersebut butuhkan. Lebih baik lagi, kalo sang pria tersebut dapat mengerti kemungkinan anak-anak kita pun merasakan kecemburuan yang sama, bahwa ada seseorang baru yang kini memasuki kehidupan mereka, sama-sama kini menempati posisi penting di hidup mamanya, dan mereka bersama orang baru tersebut harus belajar saling berbagi dan memahami satu sama lain, demi kebaikan bersama dan khususnya kebahagiaan wanita yang sama-sama mereka cintai.

- Doesn't want to exclusively do activities with children or only activities in which kids are excluded. A healthy relationship has a mix of adult-only and child-included activities. Will accept our boundaries about how much affection we are comfortable with expressing in front of our kids, and at what pace. Progress slowly in the relationship, at least in front of our children. Ingatkan dia bahwa mau sama kita berarti mau sama anak kita juga. He must take us and kids as a package. Lebih baik lagi kalo dia dapat mengerti bahwa waktu kita bersama anak-anak, sebagai orangtua, sangatlah terbatas. Dan akan ada sangat banyak waktu untuk berduaan ketika anak-anak mulai sibuk dengan diri mereka sendiri dan teman-temannya.



- Jika dia seorang duda mempunyai anak, jangan lantas memperbandingkan antara anaknya dengan anak kita dan juga jangan pernah mengkritik cara kita mengasuh anak, apalagi membandingkannya dengan cara mantan istrinya mendidik anak dahulu. Well, kalo ada sang pria yang melakukan hal seperti ini ke diri kita, berarti dia belum ready to let go his past.

- Menghargai kita dengan tidak 'menyalahkan' kita di depan anak-anak. He always sees us as a competent adult and a devoted parent. Dan juga bisa tidak keberatan untuk berlaku sebagai 'ban serep' ataupun 'sapu tangan' ketika perasaan kita sedang gundah gulana.

Well, kira-kira setidaknya kualitas seperti yang digambarkan diatas-lah yang harus dimiliki oleh seorang pria apabila bermaksud untuk memasuki kehidupan seorang ibu tunggal seperti saya. Kira2 ada ga ya??:)

Vie Matre?? Vie Suka Shopping?? Ember....So What Gitu Loh???


One day, my guy friend ever told me that most all a woman cares about how is much cash she has and how many branded bags and shoes she has to put it in. I was understandably offended at first, but after I simmered down and thought about it, I had to admit that the material things in life are indeed important for most women. From street fashion labels to haute couture, I am sure women know all the brands like the back of their hand:)

Shopping is definitely one of women’s greatest joys. Which bring me to next point, wanting the finer things in life or being materialistic isn’t a problem, as long as I am not relying on someone else to get it. We maybe have or know a friend or a friend’s friend who only goes out with men who are particularly generous, who own platinum credit cards and the good job. To me, this is when the woman cross the line and become flat-out gold-digger. Having a guy who can afford to pay for anything my heart desires might sound like an irresistible deal. But if I am actively looking for men who will be able to feed my need for material goods, then it doesn’t say much about my level of independence. It also questions my priorities in relationship.

If material goods decide who I date, then they become definitive aspect of my relationship. And I have to ask myself at the end of the day, that is what I want my partner to value in me– that I am just a woman who really knows how to spend his cash. So, it is no wonder the world materialistic has gotten such bad reputation. I have no problems with being materialistic in term of liking finer things. I just never want to be gold-digger. If I have to work very hard to get a car, then I will and I did. At least I know I would not only have a car on my own, I would have my self-respect intact as well.

Please be noted that--->Materialism is buying things we don't need, with money we don't have, to impress people who don't matter.

Never Promise Anything That We Can't Keep !



When you really love a someone, you cannot find a reason why. You only know that no matter when and where, good or bad mood, you will wish to have this person always be with you. Real love is when two people can go through the toughest problems without asking for promises or listing criteria.

In a relationship, you have to put in effort and give in at times, not always be on the receiving end. Being away from each other is more likely a type of test. If the relationship isn't strong, then you can only admit defeat. Never become hate. Real love will never recognize hate.

When two people are in love, they often do kind of loving swear or romantic promise, to each other. But why do they ask each other to swear and promise? Because they are so in love to each other ? don't think so...I see they do that coz, more likely, they don't trust each other, they don't trust their couple.

These swear and promises are useless; "Till the sky falls, till the ocean dry, my love for u will never change!", coz for the truth sake we all know that the sky will never fall and the ocean will never dry. Even if it does happen, are we still alive by then?
Be careful when making promises; don't make promises that you cannot keep. Swear things which will never happen, because the truth it is never happen.

And the funny thing also ironic is, swearing things that can never happen,often considered as the most touching words and many stupid illogical women believe in these nonsense promises!!

Move Forward, Backward, or Just Stay??



Dulu sewaktu masih single, suka bayangin betapa romantisnya saat-saat lamaran dan pernikahan nanti dan juga betapa enaknya punya suami, punya partner yang siap setia di samping kita 24 jam. Gak ada lagi yang namanya tidur sendiri (udah ditemenin ama 'guling hidup' he..he..) dan ada teman yang siap mendengarkan keluh kesah kita kalo lagi mumet atau bete gitu. Terus betapa tambah ramenya hidup gw dengan hadirnya anak2 buah hati gw dan pasangan yang pasti lucu-lucu dan cantik-cantik mirip mamanya he..he..pokoknya yang terbayang adalah live happily ever after dehhhhh..

Lupa kalo ada pepatah yang mengatakan bahwa kadang kenyataan tidak sesuai dengan impian. Oleh karena itu, sebelum kamu memutuskan untuk berkomitmen menikah dengan seseorang, ada baiknya untuk memerhatikan dua hal berikut ini:

1. Tanyakan kembali kepada diri kamu secara jelas, sepenuh hati, mendalam, penuh keyakinan, dengan kejujuran, apakah diri kamu sudah siap untuk membagi sisa perjalanan hidup kamu dengan seseorang? Sadarkah diri kamu kalo nantinya dalam perkawinan tidak akan ada lagi kata "saya" atau "aku", melainkan akan menjadi "kami" atau "kita"? Bersediakah kamu untuk keluar dari zona nyaman yang selama ini kamu hidup di dalamnya?

When you realize that you are not ready to walk into this path, better stay away. But when you are about to step into this "WORLD", pls get yourself prepared of every single thing of coming "world".



2. Kemudian, tanyakan lagi kepada diri kamu, apakah memang pria ini yang kamu inginkan, yang dan yang kamu percaya untuk menghabiskan hidup bersama-sama sampe tua...sampe maut memisahkan...that's going to be a very long journey which will have up and down moments. Apakah pria ini dengan segala kelebihan dan kekurangannya akan dapat membimbing kamu menuju ending happily ever after, bukannya malah jeblos ke wrong destination?

When you do just "believe" someone whom you are going to marry to, please don't get married. Because if it is only the "believe" you are going to carry along towards the journey of "marriage world", it is not going to work. You have to carry "trust" instead of just this "believe" to put your step into the "marriage world".

Pernikahan Masih Akankah Indah Seperti Berpacaran Dulu??



Sambil menikmati hangatnya kopi di sore hari, gw memiliki janji tuk
ketemu dengan seorang teman di Starbuck Coffee di seberang Sarinah
Sudirman Jakarta.
Di tengah siraman hujan rintik - rintik yang berselimut mendung, datanglah
seorang teman dan bercerita tentang kisah bahagia keluarganya. Sebagai teman yang baik, gw tentu
turut berbahagia mendengar cerita itu. Tapi sayang di akhir
cerita...,.beberapa bulir air matanya menetes membasahi pipi...walopun dalam hati terheran melihat temanku yang jaman kuliah dulu terkenal karena ke-macho-annya, sekarang tak sungkan menitikkan airmata di depanku...hm...tapi cowo juga manusia yak...

Dengan hati-hati, gw menanyakan apakah temen gw itu perlu media untuk curhat dan gw bersedia menjadi sarana tumpahan keluh kesah hatinya...hm, Vie mencari kesempatan dalam kesusahan neh:)...wekkkss, ga lah...mudah2an gw tetap termasuk dalam golongan manusia yang anti menggunting dalam lipatan!

Akhirnya setelah terdiam sejenak, teman gw itu mulai mencurahkan isi hatinya yang dimulai dengan flash back cerita masa pacaran mereka.
Teman gw ini bertemu dengan istrinya secara tidak sengaja yang kurang lebih mirip-mirip cerita iklan produk pembasmi jerawat. Mereka bertemu di 'public food court' yang dalam bahasa Indonesianya 'taman makan umum' (aneh ya istilah terjemahannya) yang kemudian seperti pepatah jawa 'witing tresno jalaran seko kulino' yang terjemahan nasionalnya kira-kira adalah 'cinta yang tumbuh karena sering bertemu', nah seperti itulah gambaran singkat cerita cinta temanku ini.

Cinta yang telah terjalin lebih terasa manis dan membahagiakan ketika keduanya saling mengisi hubungan dengan polah tingkah yang penuh perhatian dan kasih sayang. Seperti yang dulu selalu dilakukan oleh sang pacar yang sengaja setiap pagi membuatkan bekal makan siang dan mampir mengantarkannya ke kantor teman gw. Alasannya tentu supaya temen gw ini lebih sehat.
Dan teman gw ini pun membalas dengan setia menjemput sang pacar setiap sore dikantornya dan mengantarkan dengan selamat sampai di depan pintu rumah sang pujaan hati.
Belum lagi ungkapan - ungkapan sederhana namun penuh nuansa cinta yang selalu terlontar dari mulut keduanya, seperti:
" How are you honey ?"
" I love you...,I miss you "
" Aku selalu ingin di sampingmu"
" Aku tak bisa jauh darimu"
Hari - hari pun terasa makin indah penuh kebahagiaan bernuansa cinta. Kalaupun ada hal yang tidak enak, cuman rasa rindu nan kian menggebu yang sangat menyiksa hati keduanya. Sampai setelah 6 bulan masa pacaran dirasakan cukup untuk keduanya melabuhkan dan mengikat cinta mereka dengan janji suci pernikahan.



Suasana penuh madu cinta pun maseh dinikmati pada awal masa pernikahan mereka. Dan seperti pernikahan pada umumnya, setelah masa cerita dongeng yang indah usai dan tiba saat untuk kembali dalam dunia nyata diawali ketika sang istri telah mengandung mulai berfikir konsep efisiensi dan penghematan dimana sang istri berfikir akan lebih efektif dan efisien jika mereka pindah tinggal di rumah orang tua sang istri yang berada di tengah kota. Perjalanan ke kantor akan jauh lebih singkat dibandingkan dari rumah mereka yang terletak di pinggiran kota dan hal ini tentunya kondusif untuk kondisi sang istri yang sedang mengandung. Sang istripun mengusulkan saran tambahan untuk mengontrakkan rumah mereka selama mereka kembali tinggal di rumah orangtuanya,"kan lumayan bisa nambah tabungan kita untuk kelahiran dan masa depan sang calon bayi."
Temanku ini pun melihat saran istrinya sangat masuk akal dan selama ini hubungannya dengan sang mertua pun sangat baik plus dia selalu tetap berkeinginan untuk membahagiakan istrinya dengan sebisa mungkin menuruti setiap permintaan dari sang istri tecinta, yang pada akhirnya temanku ini pun setuju dengan syarat mereka hanya tinggal disana sampai umur sang bayi 2 bulan, kira2 satu tahun lamanya dari sekarang.

Keputusan sang suami tentu saja sangat membahagiakan sang istri yang langsung mengatakan pada temanku ini bahwa dia sungguh bahagia karena memiliki suami yang "sangat pengertian".
Tak mau kalah, sang suami pun langsung menimpali dia juga sama bahagianya memiliki istri yang juga sungguh sangat pengertian dengan langsung memberikan contoh dimana ketika sang istri sedang asyik nonton sinetron kesayangan tapi rela memindahkan channel TV ke siaran sepak bola yang disenangi suaminya, padahal ia sendiri gak seneng nonton bola. "

Tapi sayang, suasana nan penuh kebahagiaan itu kini berganti dengan terjadinya pertengkaran demi pertengkaran. Sang teman bercerita pertengkaran itu disebabkan karena sang istri selalu menunda rencana awal mereka untuk kembali ke rumah mereka setelah si kecil berusia 2 bulan. Kini si kecil sudah berusia 1 tahun dan sang istri kelihatannya makin betah di rumah orangtuanya karena banyak yang menawarkan untuk menjaga si kecil selagi dia berada di kantor, belum lagi sang nenek dan kakek yang selalu menyuplai kebutuhan sang cucu tercinta tanpa diminta. Sang istri pun merasa terbantu sekali, makanya dia tidak dapat mengerti kenapa sang suami malah berpikiran sebaliknya. Sang istri pun tersinggung karena merasa sang suami sangat tidak peduli dan tidak berterimakasih atas bantuan dari keluarga besarnya.

Sang suami, temanku ini, pun berkomentar bahwa justru sang istri yang sekarang menjadi sangat tidak mengerti perasaannya sebagi suami. Hanya memikirkan dirinya sendiri. "Sebagai kepala keluarga se-enak2nya di rumah mertua kan pasti lebih enak di rumah sendiri Vie, bisa bebas main dengan anak dan mendidik anak dengan cara gw,"kata teman gw ini lebih lanjut.



Dear temans...,
Ternyata batas antara SANGAT PENGERTIAN dengan KETIDAKPEDULIAN itu sangat
tipis sekali ya. Dulu jaman berpacaran dan awal menikah, mereka saling memuji kalo kekasih hati sangat pengertian sekali. Tapi sekarang saling puji berganti jadi saling tuding, saling pengertian pun berganti menjadi saling tidak peduli. Apakah ini terjadi karena cinta itu telah sirna?

Our marriage is only going to grow as long as we are depositing more into it than we are withdrawing from it. When I look up to the people who keep on dancing even after the music has stopped, because those are the people who will keep on trying even after all hope is lost.

I look up to the people who keep on dancing even after the music has stopped, because those are the people who will keep on trying even after all hope is lost.

Belajar Dari Kesedihan Dan Kebahagiaan



Gw percaya saat kehidupan sedang tak berpihak, saat roda nasib sedang berada di bawah, bukan berarti gw sedang terpuruk. Gw mengartikannya sebagai tanda untuk
melakukan instropeksi diri, dan jika perlu, memulai suatu babak baru kegiatan maupun kehidupan.

Ada orang yang meneteskan airmata kala diliputi kesedihan. Menangislah untuk melepaskan luka dan duka bagi individu yang memerlukannya. Tangisan adalah sesuatu yang manusiawi, baik untuk pria dan wanita. Bukan monopoli kaum hawa semata, juga bukan melambangkan kecengengan.
Adakah yang salah dengan air mata? Karena air mata juga diciptakan oleh Tuhan, dimana gw meyakini bahwa apapun yang diciptakan oleh Tuhan pasti ada manfaatnya.

Jika mendapati hati dan perasaanku hancur berkeping-keping, gw selalu berusaha untuk berpikir optimis bahwa pasti masih ada sesuatu yang tersisa untuk dibangun kembali. Ibarat kehadiran pelangi setelah redanya hujan, hidup akan menjadi lebih indah setelah badai menerpa karena manusia akan lebih dapat menghargai dan mensyukuri kehidupan yang dianugerahkan oleh Tuhan.
Dan tidak semua orang memiliki keberanian untuk bangkit kembali dari keterpurukan karena hidup itu juga sebuah pilihan.

Gw juga belajar bahwa pertemuan dengan orang-orang yang silih berganti masuk-keluar dalam hidup gw, baik atau jahat, benar atau salah,secara tidak langsung juga merupakan salah satu bagian dari proses pendewasaan diri.
Pertemuan-pertemuan dengan banyak tipe manusia tersebut membuat gw mengenal dan merasakan berbagai macam perasaan seperti bahagia, sakit hati, rindu, dan dendam. Tetapi dengan semua itu gw belajar untuk tidak kembali tersakiti maupun menyakiti orang lain.



Sedangkan, Kebahagiaan adalah sesuatu yang gw putuskan di awal. Apakah gw akan bahagia atau tidak, bukan tergantung subjek, predikat maupun objeknya, akan tetapi tergantung bagaimana gw mengatur pikiran gw sendiri. Setidaknya, itu adalah keputusan yang gw buat setiap pagi dan selama gw tetap hidup.

Gw pun menyadari bahwa hidup mempunyai banyak cabang. Dimana juga berarti hidup akan selalu menuntut gw untuk memilih satu cabang dari sekian banyak cabang yang ada. Akan tetapi setiap cabang kehidupan adalah hadiah, dan selama maseh merasa sebagai manusia, gw akan selalu memusatkan pikiran pada pilihan hadiah yang didapat dan menyimpan semua kejadian indah didalamnya bersama sekumpulan kenangan indah lainnya akan setiap hadiah dari masa kehidupan yang telah lewat.

Hukum alam mengatur, umur manusia dengan berjalannya waktu akan semakin tua. Dan seperti kata pepatah, yang akan dikenang dari seorang manusia adalah 'namanya' yang harum sewangi bunga melati, bukan wangi yang seharum bunga bangkai. Tapi itu pun akan dikenang oleh orang lain akan diri gw. Lalu apa yang akan gw kenang untuk diri gw sendiri?

Kenangan indah dari setiap cabang kehidupan yang gw jalani....Kenangan yang membahagiakan akan setiap hadiah yang gw terima dari kehidupan...Hanya itulah yang dapat gw kenang untuk diri gw sendiri dikala telah beranjak tua. Seperti simpanan di bank ataupun simpanan amal jariah, kenangan itulah yang akan melekat pada pikiran sepanjang hidup gw. Seperti hal nya simpanan, di masa tua nanti gw akan mengambil setiap kenangan yang selama ini telah gw simpan, jadi gw akan selalu sedapat mungkin menyimpan setiap kenangan indah dan bahagia yang terjadi di hidup gw.



Gw selalu mengingat enam aturan sederhana untuk menjadi bahagia:

1. Selalu bersyukur dan merasa ikhlas
2. Bebaskan hati dari rasa benci
3. Bebaskan pikiran dari segala kekhawatiran
4. Hiduplah dengan sederhana/tidak berlebihan
5. Berikan lebih banyak dan mengambil lebih sedikit (Give it more and take it less)
6. Jangan terlalu banyak berharap

Longing For True Love....



Human beings are so interested with love--like me. I tend to have a longing or need for love and there are so many questions connected about love, such as What is real love?…How do I know it is real love?…Do people really try to look for love?…Is it really difficult to find love?… Is it right to find love?…Is it necessary for two persons to be together to consider love?…Is love just a simple word for many?…Is loving considered a sacrifice?…When does love justify every mistake in life?…How far will we sacrifice in the name of love, or should I?

I thought that finding the right person is very hard and very wrong. Is this really the case or is it a matter of choice? Will it justify somebody to look for love when he/she feels the longing or need for it? Or is it ordinary to try finding love as it is a basic human need? Or do I just hope that God will someday provide the chance for a me to find love?

I can’t think of a question I ask myself more often. I envy friends who announce with great conviction that the person they’re sitting with is their soul mate. They know, from the start or along the way, that this is the man they’ll end up spending the rest of their lives with.



I am both amazed at, and suspicious of, these professions of love and faith. Sometimes I wonder if my friends tell me how much they love their partners coz they want to assure me that true love exists, or themselves. It’s not coz I don’t believe in love nor do I think no one has been deserving of it. It’s coz I am not convinced that I truly know what love is and thus, if the person I am with is the one. There’s no standard barometer to gauge my emotions, no universal guideline on where infatuation ends and love begins.

My search for love is my search for meaning in my life. I could go on searching for it and I may either succeed or fail. Should I choose to look for love? Do I really need to understand my feelings when I think I am in love, to know who really I am, and what I really want in a relationship? Is it the same as saying that love is a mere emotion and that I am treating love as something I can just invent? Is it right to enumerate things that I wanted in a relationship? Or can I just leave the relationship as it is? Do I equate a love relationship as a partnership with definite life? Or do I treat love as our will to live?



Sometimes, I have to find hurt just to make love survive; get hurt always badly; but what is important is that I gave it a shot; REAL LOVE is never regretful. And even if it fails to last; real love should only make me a better person… a stronger person.And in love, strength is knowing when to give up the fight and finally let go.
Because if it is real love, then it is meant for me to be in love and it will stick with me till the end… no matter how tough it gets. No matter how long it will take and far from perfect but it is still real love.

Perhaps I am being too harsh on love. Or perhaps it’s simply a case of my inability to determine the exact combination of traits that’d make for an ideal partner. So instead of dating a human quilt, The One that I love is probably the one who reflects me best, since I love me best, my soul mate should be reflects close to it. With so many differing opinions, my final say is that no one truly knows if his or her partners is “The One”. But maybe in the end, it doesn’t really matter, What matter is what I make of “My One....My Love:)"

Perlukah Cinta di-Test?


Pada dasarnya ga ada orang, apalagi co, yang suka di test-test kayak gitu. Kesannya kan spt dicurigain. Kalo sampe gw berniat men-test cowok gw maka kemungkinan gw menyimpan kekhawatiran yang beralasan dan juga yang tidak beralasan atas hubungan antara gw dan pasangan. Tapi, terlebih dahulu gw selalu berusaha
meyakinkan diri bahwa kekhawatiran yang sedang gw rasakan hanyalah kekonyolan semata alias tidak beralasan. Dengan tetap sabar dan setia berada disamping gw dan menjalin hubungan dengan gw selama bertahun-tahun dalam suka duka, bagi gw sudah merupakan salah satu tanda kalo pasangan sayang ma gw, terlepas dari sikap pasangan yang gw rasakan semakin cuek akhir2 ini. Dengan masa pacaran yang bertahun lamanya, mungkin telah membuat pasangan merasa semakin nyaman ma gw jadi dia merasa ga perlu berpura2 lagi alias udah 'menjadi dirinya sendiri' yang istilah bekennya ga jaim lagi.

Waktu masa PDKT atau awal2 pacaran pasti setiap pasangan selalu menampilkan sisi diri pribadi yg terbaik dan juga selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pasangannya, misalnya selalu menjemput atau selalu bersikap manis, ga cuek, dsb, karena ada rasa ingin memikat, memiliki atau mendapatkan seseorang yang lagi di-incer (kayak apa aja ya pake kata "diincer" he..he..) sehingga ga mungkin kan kalo di awal2 pacaran/PDKT sudah menampilkan sisi diri kita yang kurang baik...hmm..bisa2 lari deh pasangan kita sebelum jadian he..he..jadi wajar aja kalo 'dunia terasa indahnya' di awal2 masa pacaran atau PDKT tersebut.

Nah seiring berjalannya waktu, gw dan pasangan sudah saling mengenal kepribadian satu sama lain dengan lebih baik, maka akan semakin nyaman pula untuk menampilkan sisi gw yang sesungguhnya atau 'ini loh aslinya gw'. Juga karena pada dasarnya hanya sedikit orang yang bisa berpura2 dalam waktu lama menyembunyikan sifat aslinya. Tapi menurut gw seh, menampilkan sisi pribadi yang sesungguhnya ada bagus nya juga loh. At least, kita bisa tau apa cinta pasangan cukup besar untuk mau mengerti dan memahami juga menerima diri kita sesungguhnya.



Selain itu maseh banyak kemungkinan lain seperti mungkin pasangan lagi sibuk dengan keluarganya atau lagi konsen ma kerjaannya, etc.Lebih baik kita sebagai pasangan, coba untuk berpikir positif aja. Ngapain kita memusingkan diri sendiri dengan berbagai macam pikiran negatif yang belom tentu kenyataannya spt itu. Males banget kan ?
Dan coba jangan pernah untuk merasakan 'kenapa sih dia begitu, padahal gw kan udah berbuat banyak demi dia?', karena kesannya kamu jadi 'perhitungan' atau mengharapkan timbal balik yang rumusannya 'kalo aku begini ..dia juga harus begitu dunk...'.
Pikiran2 negatif seperti ini dapat membuat kamu dan pasangan merasa tidak nyaman dalam berhubungan. Kalo kita benar2 menyayangi pasangan, kita akan do best for him, tanpa mengharapkan dia akan berbuat yang sama. It's ironic how a person can be depressed if they still haven't found the one they love, when another person (us, for example) can be depressed with the person they (=we) love....aren't we stupid then?

Tapi kalo kita emang bener2 ga tahan pengen nge-test dia neh, bentuk test yang (menurut gw loh) bijaksana adalah just give him space and time to be alone. Karena bagaimanapun apabila dia emang bener2 syg ma kita dan juga kita bener2 syg ma
dia...'Love will gather us back again.'

"Bila kita sangat menginginkan sesuatu, biarkan dia pergi. Apabila dia kembali, berarti dia akan menjadi milik kita selamanya. Apabila tidak kembali berarti dia memang tidak akan pernah menjadi milik kita."

Love will lead you back in my arms again, katanya Taylor Dane:)

Oh ya satu lagi....Always listen to your heart because even though its on your left side, it tells you the proper things:)

Perselingkuhan & Perkawinan



I. Definisi Perselingkuhan
Perselingkuhan adalah hubungan pribadi di luar nikah, yang melibatkan sekurangnya satu orang yang berstatus nikah, dan didasari oleh tiga unsur:
1) saling ketertarikan
2) saling ketergantungan
3) saling memenuhi secara emosional dan seksual.

Perselingkuhan tidak selalu berarti hubungan yang melibatkan kontak seksual. Sekalipun tidak ada kontak seksual, tetapi kalau sudah ada saling ketertarikan, saling ketergantungan, dan saling memenuhi diluar pernikahan, hubungan semacam itu sudah bisa kita kategorikan sebagai perselingkuhan.


II. Tahapan Perselingkuhan
1) Tahapan ketertarikan, yang terdiri dari ketertarikan secara fisik atau pun emosional. Karena tertarik pada seseorang, mulailah kita bercakap-cakap dan menjalin hubungan dengannya.

2) Setelah itu, kita mulai merasa tergantung dengannya. Kita merasa
membutuhkan dia. Saat dia tidak hadir, kita merasa tidak nyaman,
sehingga kita mulai menanti-nantikan dia.

3) Setelah rasa ketergantungan, mulailah proses saling memenuhi.
Kita dengan dia merasa saling memenuhi kebutuhan emosional masing-masing.
Misalnya, yang satu punya problem dengan keluarganya, lalu diceritakan kepada rekan yang dapat memenuhi kebutuhan emosionalnya, dan terus berlanjut.
Biasanya, kalau ada unsur-unsur ini, hanya tinggal masalah waktu untuk terjadinya hubungan seksual antara kedua orang tersebut.


III. Macam Perselingkuhan
Pertama, yang terjadi secara temporer, yaitu yang disebut orang sebagai "jajan" atau "main-main perempuan / main-main lelaki".
Perselingkuhan jenis ini tidak melalui tahapan perselingkuhan.

Kedua, yaitu perselingkuhan yang terjadi secara permanen, dalam pengertian sudah ada jalinan atau kontak batin, ada saling bagi emosi satu sama lain. Perselingkuhan jenis ini tidak mudah diputuskan, karena pasangan selingkuh tersebut dicintai. Mereka benar-benar sudah menjalin hubungan yang intim dan akrab, sehingga untuk memutuskannya terasa sangat sulit sekali.


IV. Memulihkan Hubungan Yang Rusak Akibat Perselingkuhan
Perselingkuhan memang sulit untuk diputuskan. Menurut pendapat saya, hanya jika perselingkuhan itu sendiri yang retak (artinya, pasangan selingkuh itu memang tidak cocok), barulah perselingkuhan itu bisa putus dan si suami atau si istri kembali kepada pasangannya.

Jarang terlihat, seorang pria yang sudah menjalin hubungan di luar nikah, mau melepaskan hubungannya dengan pasangan selingkuhnya dan kembali kepada istrinya. Jadi, yang biasa terjadi adalah timbul keretakan antara hubungan selingkuh yang dijalin, dan mereka putus.

Perselingkuhan sulit diputuskan karena biasanya perselingkuhan dimulai dengan pernikahan yang sudah retak: ada masalah dalam pernikahan itu, ada kebutuhan yang tak terpenuhi, ada kekecewaan karena harapan yang tidak bisa dipenuhi.

Keretakan itu mengakibatkan kerawanan terhadap masuknya orang lain dalam
pernikahan kita. Sebab itulah, perselingkuhan tidak mudah diputuskan.

Biasanya perselingkuhan retak dulu, baru yang bersangkutan bisa kembali kepada pasangan nikahnya. Sekalipun mau kembali, hubungan dengan pasangan nikah sering susah dipulihkan, karena pernikahan itu sendiri sudah
tidak harmonis lagi.

Jadi, untuk memulihkan hubungan yang sudah retak karena perselingkuhan, memerlukan dua tahap penyelesaian :
1) Memutuskan hubungan suami istri / suami dengan orang lain.
2) Mengharmoniskan hubungan suami istri, saling refleksi, berusaha dan berdoa.

Kedua tahap penyelesaian tersebut bisa memerlukan waktu panjang. Sejak seseorang bertekad untuk putus dan berjanji kembali pada istrinya sampai benar-benar putus bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa lebih dari setahun.

Apalagi, bila yang bersangkutan belum yakin sepenuh hati untuk memutuskan hubungan dengan pasangan di luar nikahnya, waktu yang diperlukan akan lebih lama. Jadi persoalan semacam ini sangat kompleks.

Sebab itu, langkah terbaik adalah pencegahan. Jangan memulai terlebih dahulu. Kalau sudah mulai, pemulihannya susah. Jadi, langkah pertama adalah jangan
mencobanya.



V. Kategori Pernikahan Yang Rawan Terhadap Perselingkuhan
1) Pernikahan yang kering kasih sayang dan cinta.
Pernikahan bermasalah bila kebutuhan emosional dan seksual sudah tak terpenuhi dengan baik atau terganggu. Kebutuhan yang tak terpenuhi membuat kita secara tak sadar dan alamiah mencoba mencari pemenuhannya.
Jika pemenuhannya tak terpenuhi di rumah, dicarilah pemenuhan di luar rumah. Pernikahan semacam ini sudah tidak memiliki cinta kasih. Yang ada hanya hubungan formal sebagai suami istri yang diikat oleh pernikahan dan anak-anak. "Malu kalau bercerai, apa kata keluarga dan masyarakat?"

Sebenarnya kasih adalah pengikat pernikahan yang sangat kuat. Kalau kasih sudah luntur, ikatan pernikahan mudah lepas. Pernikahan bermasalah membuat suami istri frustrasi sehingga menimbulkan kemarahan, percekcokan tiada henti, perbuatan melukai hati pasangan dan koreksi (kritik) yang terus-menerus.

Dalam keadaan semacam ini, pasangan tersebut membutuhkan kelegaan, bagaikan tanah kering membutuhkan air yang sejuk. Waktu ada yang menyediakan dan meneteskan air yang sejuk itu, kita akan menyedot air itu dengan lahap.


2) Pernikahan yang tanpa adanya moral tanggungjawab di dalamnya.
Jika istri bertanya, "Jam berapa akan pulang", dijawab, "Jangan banyak tanya". Bila ditanya, "Mau pergi ke mana", dijawab, "bukan urusanmu". Sikap semacam ini adalah sikap tidak mau memberi pertanggungjawaban.
Tipe ini juga mencakup tidak ada pertanggungjawaban finansial, yaitu kita tidak tahu pendapatan suami atau istri kita. Suami istri harus saling tahu pendapatan masing-masing. Jadi, jika sebagian pendapatan keluar untuk perselingkuhan, pasangan akan tahu.
Awalnya, mungkin tidak ada rencana berselingkuh saat dia tidak mau memberitahu gajinya. Namun, sistem seperti itu memudahkan dirinya berselingkuh.


3) Pernikahan yang diisi dengan perilaku seks menyimpang, termasuk kecanduan seks.
Pada Orang yang mempunyai perilaku seksual menyimpang akan mempunyai ketidakpuasan apabila sang istri/suami dinilai tiadak dapat memenuhi kepuasan seksualnya. sehingga kemudian orang itu akan selalu menyimpan keinginan terpendam untuk memenuhi kepuasan seksualnya di luar dengan siapapun yang dapat memenuhi kebutuhannya itu, meskipun bukan dengan suami/isterinya sendiri.

Orang dengan kelainan seksual seperti ini tidak akan pernah menganggap dirinya salah, yang ada malah menyesalkan suami/istrinya yang tidak dapat memenuhi kebutuhan seksualnya.
Karena itu, latar belakang yang tidak baik harus dikubur dan jangan pernah
dibuka-buka kembali. Seperti laiknya orang yang pernah menjadi alkoholik, tidak boleh mengatakan, " I am recovered alcoholic" (saya pernah disembuhkan dari alkoholik), tapi seharusnya "I am recovering alcoholic" (saya masih terus disembuhkan dari alkoholik).
Demikian juga dengan perilaku seksual yang menyimpang yang harus disembuhkan.


4) Pernikahan tanpa adanya kekuatan agama/iman kepada Tuhan, didalamnya.
Lika liku naik-turunnya kehidupan, seperti orang yang mengalami perubahan drastis dalam kehidupannya, misalnya kejatuhan ekonomi atau kehilangan pekerjaan dan kehilangan orang yang dikasihi ataupun popularitas dan kekayaan yang datang mendadak, apabila tidak ada kekuatan iman di dalamnya, akan dapat dengan mudah sekali tergoda rayuan perselingkuhan.

Perselingkuhan bisa menimpa siapa saja. Dan ternyata, menangkal pernik-pernik perselingkuhan tidak semudah yang kita duga, karena godaan yang cukup besar. Hanya iman kepada Tuhan, cinta dan kasih sayang terhadap pasangan dan keluarga, serta rasa sadar dirilah yang dapat menyelamatkan kita dari godaan 'Selingan Indah tapi Keluarga Tetap Utuh' ini:)

Wanita Bukanlah Makhluk Yang Susah Ditebak Mau-nya


Kalau ada yang bilang kaum wanita itu adalah makhluk di dunia yang paling susah ditebak maunya....waduh jangan percaya atuh....karena kenyataannya, kaum wanita itu tidak susah kok untuk ditebak apa maunya. Tapi emang bakal lain ceritanya kalo yang si penebak ga bener2 niat untuk menebaknya alias asal main tebak2an aja...ya udah deh..kalo gitu mah, bukan hanya wanita aja yang susah ditebak...tapi emang tuh orang yang pada dasarnya emang kagak mau susah untuk mengerti mengenai salah satu makhluk indah ciptaan Tuhan yang disebut WANITA ini:)

Apa yang umumnya dibutuhkan oleh para wanita dari kaum pria lebih cenderung ke bentuk perhatian yang 'emosional' sifatnya, ketimbang yang berbentuk material. Mungkin karena kaum wanita adalah kaum yang sangat mengandalkan perasaan. Sehingga bentuk perhatian dan perlakuan yang mencerminkan cinta dan kasih sayang dari seorang pria untuknya adalah hal yang paling dibutuhkan dan di-idamkan di dunia ini. Dan sepertinya hal itu tidaklah sukar untuk diberikan oleh kaum pria terhadap wanita kan? Tentu tidak sukar, asalkan kaum pria benar-benar mencintai dan menyayangi para wanita dengan benar-benar tulus berasal dari lubuk hati yang paling dalam.

Hari gini, Alpie masih percaya kata-katanya orangtua jaman dahulu loh. Alpie setuju banget dengan perkataan para orangtua itu yang mengatakan bahwa seorang pria yang benar-benar mencintai seorang wanita akan melakukan apa saja demi kebahagiaan seorang wanita yang dicintainya, meskipun taruhannya adalah harga diri dan nyawanya. Alpie mimpi...Alpie norak..mungkin ada diantara teman-teman yang berpendapat begitu. Tapi...sebodo teuing ah...pokoknya itu yang Alpie yakini.

Rasa cinta dan kasih sayang yang sangat besar dan mendalam dari seorang pria yang diterima oleh seorang wanita berlipat-lipat kali nilainya dibandingkan nilai berkarat-karat berlian yang hanya bisa menghiasi menambah indahnya permukaan fisik tubuh si wanita tersebut. Namun, rasa cinta dan kasih sayang yang murni dan mendalam itu akan mengisi dan menghiasi tidak hanya sekedar permukaan fisik saja, akan tetapi menembus jauh relung-relung hati yang paling dalam, menutup setiap kekosongan yang ada.



Nah, sekarang bagaimana caranya untuk seorang wanita agar merasa dirinya benar-benar dicintai dan disayangi?? Selain rasa cinta dan kasih sayang yang murni dan tulus sebagai syarat utama yang harus ada, maka lengkapilah dengan syarat-syarat pendukung sebagai berikut:)

1. Wanita butuh untuk didengar oleh pria
Ya, wanita sangat butuh pria-nya untuk mendengar....tetapi benar2 MENDENGAR, bukan hanya 'mendengar' yang seperti masa kecil kita dahulu ketika lagi diomelin nyokap. "Pasang kuping aja, dengerin nyokap ngomel, jangan dimasukkin ke hati...masuk kuping kiri, keluar kuping kanan deh". Nah, mungkin ketika wanita butuh untuk didengar keinginannya, kaum pria akan langsung melihat wanita ini seperti ibu-nya dulu ketika lagi ngomel-ngomel. Makanya tindakan yang diambilnya pun akan sama persis seperti sikap masa kecilnya dulu.

Padahal kan maksud sang wanita bukan seperti itu. Ketika wanita mengutarakan bahwa dirinya butuh untuk didengarkan, maksudnya adalah tidak hanya secara harfiah mendengar pake kuping, tapi juga dimengerti dan dipedulikan apa yang akan dikatakannya. Makanya ketika ada statement yang mengatakan bahwa wanita itu hanya butuh untuk didengar, bukan untuk diberi nasihat....hm..kok sepertinya gw kurang setuju yak. Kalo hanya untuk di dengar, mendingan gw bicara ma patung aja...tapi mungkin itu untuk wanita yang seperti gw yak...mungkin lain halnya untuk para wanita lainnya.
Kalo berkaca pada diri gw sendiri, sebagai wanita, gw tidak hanya butuh kaum pria untuk mendengarkan, tetapi juga memberikan response atas segala perkataan gw itu.

I know that, however,in most cases, the man comes home from work and has had a long, stressful day. All he hears when she is talking is “blah, blah, blah.” He tries to tune her out and goes to his favorite recliner and grabs his handy remote control. He loves his television more than anything in the world. She stands in front of the television and he leans left and right to see. Finally, she gives up and eventually, communication is lost, thus the relationship goes bad.

Padahal komunikasi itu adalah salah satu resep penting untuk suksesnya suatu hubungan. Oke oke, bolehlah kaum pria komplen kalau wanita itu kadang tidak mengenal waktu dengan bisa-bisanya 'berkeluh kesah' di saat yang tidak tepat...ketika kaum pria ini lagi capek, sehabis pulang kerja. So, for win-win solution, gimana kalo diadakan sedikit kompromi untuk ending penyelesaian yang lebih baik bagi kedua belah pihak.

Communication is very important in a relationship. There is a way to stop your relationship from falling apart due to lack of communication. I know you men are tired when you come home, but I have a few suggestions:
* When you first get home, ask your woman how her day was. When she answers, actually listen to what she has to say and respond. This will let her know that you care about what she went through during the day and that you want to know what she has to share with you.
* Tell her about your day. Ask her for advice on problems you dealt with during the day.
* After you communicate for awhile, then you can go and watch television.

I think communication is the most important factor to a healthy relationship. If you always know what your partner is feeling then you will always be close to each other...percaya deh:)

2. Wanita itu senang dipuji oleh pria yang disayanginya
Walaupun wanita sering berkomentar,"Tumben nih muji-muji, pasti ada maunya yak?" atau "Udah ah jangan ngerayu-rayu gombal gitu...norak taukkk" ketika mendapat pujian dari kekasihnya, tapi di lubuk hati nun jauh disana, wanita seneng dan bahagia banget mendengarnya.

Seorang wanita suka sekali diperhatikan oleh pasangannya. Apalagi ketika dia mau repot-repot berdandan ala kesukaan sang pasangan, wah sebaiknya neh para lelaki gak usah gengsi-gengsian deh untuk menyatakan pujian karena berarti anda menghargai usaha wanita anda yang tidak lain untuk membuat anda senang. Dan pasangan pun akan semakin tambah sayang dan cinta ma anda. Well, it is very worth to try kan ?:)

3. Wanita itu suka sekali ma yang 'berbau-bau' romantis
Mungkin karena pada dasarnya wanita adalah makhluk yang mengandalkan perasaannya ketimbang logika, maka ya wajar aja kalo wanita itu terkenal sebagai makhluk hidup yang romantis. Setomboy-tomboynya wanita, pasti ga akan menolak dan akan tersentuh hatinya apabila diperlakukan bak putri-putri dalam dongeng oleh lelaki yang dicintainya.

Ga perlu merancang suasana romantis yang mewah dengan mengeluarkan banyak uang, wanita justru lebih suka suasana romantis yang sederhana namun tak terduga olehnya, karena justru itu menunjukkan ketulusan pasangannya. Misal seperti:
- Menghabiskan waktu seharian bareng keluarga dan teman-teman dekatnya.
- Nemenin dia lembur semalaman di kantor sambil tak lupa membawakan makan malam untuknya dan juga siap memijat bahunya ketika dia mengeluh lelah.
- Mengirimkan bunga dengan ucapan kasih sayang ke kantornya.

4. wanita suka banget dipelukkkkkk
Ini juga yang menjadi favorit-nya Alpie. Gw tuh suka banget dipeluk ma cowok gw...kesannya tuh dia sayang banget dan bisa bikin gw merasa nyaman dipelukannya....My home is in his hug...ceileee..ha..ha..

Tapi itu bener. Women love to cuddle and be held. So guys, just hold your women close to you , cuddle with them and let them be comfortable in your arms. If you do this along with some of my tips above, your woman will be “so into you.”:):):)

TIME LESSON

Dear Friends,

Please imagine there is a bank account that credits your account each morning with Rp 86,400. And every night it writes off as lost, whatever of this you have failed to invest to good purpose. It carries over no balance, and it allows no over draft.

Each of us has such a bank. Its called TIME.

Each day, it opens a new account for you. And each night, it burns the remains of the day. If you fail to use the day's deposits, the loss is yours. There is no drawing against TOMORROW.

To realize the value of ONE YEAR, ask a student who failed a grade.
To realize the value of ONE MONTH, ask a mother who has given birth to a premature baby.
To realize the value of ONE WEEK, ask the editor of a weekly magazine.
To realize the value of ONE HOUR, ask the lovers who are waiting to meet.
To realize the value of ONE MINUTE, ask a person who just missed the flight.
To realize the value of ONE SECOND, ask someone who just avoided an accident.
To realize the value of ONE MILLISECOND, ask the person who won a gold medal at the Olympics.



My dear friend,

Treasure every moment that you have. And treasure it more because you shared it with someone special, so special enough to spend your time with. And please always remember that time waits for no one.

You must live in the present of today's deposits. Invest it so as to get from it the utmost in health, happiness, and success.

My dear friend,

Yesterday is history and Tomorrow is a mystery. As Today is a gift. That's why its called the PRESENT. So, please make the most of TODAY. The clock is running!