Remaja Bikin Pusing


Gw rada-rada mau 'muntah' tadi ngeliat kelakuan sepasang anak remaja pelajar SMP (terlihat dari seragam SMP yang dikenakan mereka) di dalam busway dalam perjalanan menuju ke kantor tadi pagi. Sementara si cowok lagi berdiri bergelantungan, yang si remaja cewek sibuk berdiri sambil 'ber-gelendotan' (waduh apa ya bahasa Indonesianya??) memeluk badan si cowok (padahal masih ada satu 'gantungan' yang tersedia di dekat si remaja cewek. Seakan belum puas bermanja-manja 'gelendotan', si remaja cewek itu pun tanpa sungkan menyampirkan kepalanya ke dada si remaja cowok. Dan mungkin karena merasa dunia ini cuman milik mereka berdua dan yang lain pada ngontrak, mereka pun tanpa segan mempertontonkan kemesraan itu ke para penumpang busway lainnya, termasuk ke gw yang tepat duduk di depan mereka. OMG, apa mereka ga malu ya ma 'baju seragam' SMP mereka itu???

"Ih, Alvi kok tumben nyinyir banget sih??"

Abis gw ga kuat lagi dan sekaligus prihatin banget ngeliat 'tingkah-laku' pergaulan anak-anak remaja sekarang. Iya gw ngerti sih kalo mereka-mereka itu lagi dalam masa pubertas yang kerap kali ditanggapi wajar oleh umum. Tapi menurut gw sih itu tetep tidak wajar.

"Alah Vie, lo kayak ga pernah muda aja??"

Justru karena gw itu pernah muda makanya gw berani bilang itu tidak wajar. Kenapa tidak wajar? karena kita itu masih orang Indonesia yang masih tinggal di Indonesia yang masih menjunjung tinggi ajaran agama dan budaya-adat timur.

"Nyante aja kali Vie, kan anak remaja jaman sekarang beda banget ma remaja jaman baheula kayak lo gitu"

Weleh, weleh....Memang banyak yang bilang bila pergaulan remaja saat ini sudah sangat jauh berubah dibanding pada masa-masa beberapa tahun silam. Remaja sekarang lebih mampu berekspresi pada emosi dan mengungkapkan perasaan tanpa sembunyi-sembunyi dan malu seperti dulu. Sudah lumrah saat ini kita melihat remaja mengungkapkan kemarahan, sedih dan kegembiraanya dengan kata-kata yang terucap secara langsung, seperti merangkul dan mencium mesra ibu mereka tercinta. Perilaku ini pun diterapkan pada pergaulan mereka sehari-hari. Dengan biasa mereka mengekspresikan perasaan cinta dan sayang pada pacar mereka di tempat-tempat umum. Sudah umum dilihat saat ini bila di mall-mall para remaja biasa bergandengan tangan, berpelukan bahkan berciuman, atau bahka di busway sekalipun seperti pengalaman yang gw lihat tadi pagi. Mereka lagi dalam tahap-tahap mencari dan menunjukkan eksistensinya di dunia ini.

Para remaja sih sah-sah aja dalam menuntut hak nya dalam berekspresi atau apalah itu namanya. Tetapi harap sadari juga kalo segala sesuatunya itu harus seimbang seperti dimana ada hak, pasti ada kewajiban alias tanggung-jawab. Nah, kalo para remaja pada ribut menjalankan hak eksistensinya dengan cara 'bermesraan ria' di depan umum, lalu adakah di saat itu juga mereka mengingat kewajiban dan tanggung-jawab mereka untuk tidak mengganggu norma-norma kesopanan dan kenyamanan dalam bersosialisasi di tempat umum. Pernahkah mereka memikirkan bahwa ada orang-orang lain yang merasa terganggu oleh ulah mereka itu? Sepertinya sih tidak. Tidak ada salah menuntut hak, tetapi coba pikirkan untuk menuntut hak secara benar, dalam waktu yang benar, dan dalam tempat yang benar.


Untuk para orang-tua, sebaiknya sejak dini hendaklah tanamkan pendidikan agama pada anak-anak kita sehingga mereka kelak mempunyai moral yang baik dan berguna. Tanamkan pada anak-anak kita bahwa walaupun mereka masih di bawah perlindungan kita, tetapi sebagaimana manusia dewasa lainnya, mereka pun mempunyai peran dan tanggung jawab sosial kepada Tuhan dan lingkungannya yang kelak kemudian akan diminta pertanggungjawabannya oleh Tuhan. Berikan contoh pada mereka, tingkah laku kita sebagai orangtua yang positif yang sesuai dengan harapan kita atas mereka, sehingga diharapkan anak-anak ketika menemukan sesuatu yang buruk dalam pergaulannya, dapat mengendalikan diri mereka sendiri dan menolak secara tegas atas kemauan mereka sendiri (bukan karena diminta atau disuruh oleh kita, para orangtua).

Gw percaya kalo pada dasarnya orangtua dari jaman dahulu sampe sekarang itu dasarnya sama. Tidak ada yang namanya orangtua yang kuno, kolot maupun yang modern. Semua orangtua di dunia ini mengharapkan yang terbaik buat anak-anaknya. Menginginkan anak-anaknya bertingkah-laku yang 'lurus-lurus' saja. Jangan karena di masa muda kita pernah 'bandel' seperti mereka, lantas kita pun memaklumi 'kenakalan' mereka. Justru karena kita pernah 'bandel' maka kita harusnya telah dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya 'kebandelan' ini pada anak-anak kita.

Buat para remaja, masa pubertas adalah tahapan normal yang harus dilalui dalam siklus kehidupan manusia. Tapi tolong jangan sempitkan pikiran kamu dengan menganalogikan masa pubertas adalah masa 'semau gw-nya' kamu. Masa pubertas juga adalah masa dimana para remaja ingin diperlakukan oleh orang lain sebagai manusia dewasa. Nah, kalau kemudian kamu mengisinya dengan cara-cara yang tidak menghargai diri kamu sendiri dan juga orang lain, lantas bagaimana kamu bisa mengharapkan orang lain akan memperlakukan kamu seperti yang kamu harapkan?